TOPIK
Puisi Mustafa Ismail
-
Puisi Keretakan Mustafa Ismail: Musim murka menelungkup meja persahabatan kertas tugas berserakan
-
Puisi Lebaran 3 Mustafa Ismail: Aku mencari cari kampungku yang tenggelam setelah laut pasang
-
Puisi Lebaran 2 Mustafa Ismail: Angin dan hawa hujan seperti tak henti memukul mukul tubuh bayi itu
-
Puisi Lebaran 1 Mustafa Ismail: Takbir itu mengingatkanku pada lilin lilin aneka warna di sepanjang
-
Puisi Hujan Belum Reda Mustafa Ismail: Maafkan aku yang mengirim gerhana ke dalam arlojimu
-
Puisi Palu di Ruang Kusut Mustafa Ismail: Kita terima saja percikan percikan api yang keluar
-
Puisi Nyanyian Malam Mustafa Ismail: Lukisan itu terpaku pada kelam memanggil diriku mengajak pergi
-
Puisi Peristiwa Kecil Pagi Hari Mustafa Ismail: Engkau hanya kaget, ketika bangun pagi itu
-
Puisi Kepada Penyair Laut Mustafa Ismail: dalam gigil pagi itu, di sebuah mesjid, kami membayangkan
-
Puisi Dialog 1996 Mustafa Ismail: Kita meninggalkan kafe terapung ketika malam larut dan angin
-
Puisi Meulaboh Mustafa Ismail: Dalam gigil pagi itu, di sebuah masjid, kami membayangkan
-
Puisi Kita Saling Memanggil Mustafa Ismail: Tak ada salahnya kita saling memanggil pada jarak
-
Puisi Peta Basah Kuyup Mustafa Ismail: Di sebuah pojok pada wajahmu bola kecil terapung memerah
-
Puisi Personifikasi Waktu Mustafa Ismail: Katakanlah, bagaimana harus mengulang sejarah itu
-
Puisi Menunggu Surat Mustafa Ismail: Aku menunggu suratmu, setiap matahari terbit cerita apakah
-
Puisi Titik Nol Mustafa Ismail: Mungkin, ini adalah titik nol, saat pertama kita bercakap cakap
-
Puisi Piring Yang Suntuk Mustafa Ismail: Aku sudah makan, katamu, ketika kita tiba di warung itu
-
Puisi Masa Depan dalam Tidur Mustafa Ismail: Menyaksikan kau tertidur, selangit bintang berkedap
-
Puisi Tirom Mustafa Ismail: Di kampung kami, selalu ada senja yang lumer di atas air payau
-
Puisi Anakku Menangis Mustafa Ismail: Anakku menangis menagih jam mainnya bagai gelombang menendang
-
Puisi Seorang Lelaki Yang Menangis Mustafa Ismail: Lelakiku telah melipat jasnya, lalu menangis
-
Puisi Di Sela Sela Sepi Mustafa Ismail: Puing-puing itu bersatu lagi dalam makna lain Bahtera
-
Puisi Mengukur Kesunyian Mustafa Ismail: Di setiap tikungan, aku mengukur kesunyian: makin luas
-
Puisi Tak Ada Puisi Hari Ini Mustafa Ismail: Tak ada puisi hari ini, selain suara kereta
-
Puisi Surat Surat Mustafa Ismail: Surat suratmu telah hanyut jauh sebelum sabtu pekat itu
-
Puisi Catatan Pergantian Tahun Mustafa Ismail: Kita sambut tahun, bulan entah di mana matahari
-
Puisi Alas Roban Mustafa Ismail: Akhirnya tiba juga titah itu: “kau harus menumbangkan Pohon-pohon
-
Puisi Berita Kepulangan Mustafa Ismail: Mungkin inilah terakhir kita melihat tempat ini menjadi
-
Puisi Kita Adalah Pohon Mustafa Ismail: Kita adalah sebatang pohon tumbuh di atas tanah pecah dengan
-
Puisi Peunayong Mustafa Ismail: Kudengar kau sempat berlari, menumpang Nuh, ketika kota menjadi laut