Tribun Corner
Menengahi Perang? Mengutuk Saja Kita Tak Mampu
Jika mengecam tindakan agresif yang melanggar kedaulatan negara lain saja kita tak mampu, lalu bagaimana kita berperan mengupayakan perdamaian dunia
Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Muhammad Fatoni
Membuka usaha sendiri pun tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Ada unsur modal, tempat, dan keberuntungan di sana.
Belum dengan pemeo saat ini, “jika semua orang berjualan, lalu siapa yang mau beli?” Inilah dampak melemahnya ekonomi yang nyata-nyata dirasakan akhir-akhir ini.
Posisi Indonesia benar-benar terimpit. Persoalan makan bergizi gratis yang menyedot ratusan triliun rupiah anggaran saja belum selesai.
Ditambah dengan sorotan pendirian koperasi desa merah putih yang terus menyita perhatian publik.
Apakah rencana besar pemerintah itu akan berhasil? Mampu menggerakkan ekonomi di setiap desa? Lebih banyak yang menyangsikan daripada berdiri dengan sudut pandang optimisme.
Jangankan menakar apa yang terjadi di kemudian hari, saat serangan pertama dilancarkan Israel-AS ke Iran, belum terdengar kecaman resmi yang muncul dari lembaga negara. Baik itu kementerian maupun Istana.
Padahal apa yang dilakukan dua sekutu kental itu terhadap Iran melanggar piagam PBB dan hukum internasional.
Aksi para agresor tersebut pun sudah pasti berisiko menimbulkan bencana kemanusiaan dan ekonomi yang serius di kawasan.
Eskalasi di sekitar Iran juga dinilai mengancam keamanan nuklir pun radiologis.
Jika untuk mengecam tindakan agresif yang melanggar kedaulatan negara lain saja kita tak mampu, lalu bagaimana kita berperan untuk mengupayakan perdamaian dunia?
Padahal negara ini mengamanatkannya dalam pembukaan dasar hukum tertinggi kita, UUD ‘45: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
(*/hendy kurniawan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Perang-Iran-vs-AS.jpg)