Tribun Corner

Bellum Omnium Contra Omnes

Di kota lain, banyak anak-anak muda, entah itu pelajar, mahasiswa, maupun aktivis hingga hari ini masih menghadapi persoalan hukum

Tayang:
Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
SIDANG TUNTUTAN - Terdakwa perkara dugaan pembakaran tenda Polda DIY, Perdana Arie, saat mengikuti persidangan dengan agenda tuntutan di ruang sidang V, Pengadilan Negeri Sleman, Selasa (10/2/2026) 

TRIBUNJOGJA.COM - “Jangan Takut Jadi Aktivis!” adalah pekikan lantang Perdana Arie Putra Veriasa di Pengadilan Negeri Sleman, lebih sepekan lalu.

Agenda pembacaan tuntutan terhadap Arie atas dakwaan terbakarnya tenda di Mapolda DIY saat demonstrasi besar 29 Agustus tahun lalu sempat ditunda lantaran jaksa belum siap.

Tapi, sepekan kemudian tuntutan itu kemudian dibacakan: pidana satu tahun penjara. 

Aktivis BEM UNY ini memperlihatkan ketenangan setiap menghadapi persidangan yang telah berlangsung berbulan-bulan lamanya.

Termasuk saat dia mengenakan kaus bertuliskan seperti pekikan di atas, lalu meneriakkannya sembari mengepalkan tangan, seolah ingin membakar semangat anak muda agar jangan pernah takut menyuarakan kebenaran.

Kita tahu--demonstrasi terbesar di Indonesia pascareformasi 1998 lalu--merupakan luapan amarah rakyat yang semakin tak terbendung.

Ruang ketidakadilan, luka menganga, cederanya demokrasi adalah kulminasi.

Berujung pada meninggalnya belasan orang dan ratusan orang ditahan yang berujung pada meja hijau pengadilan.

Semua yang telah terjadi bukanlah bermula dari ruang hampa. Persoalan bangsa seperti tak berkesudahan.

Praktik korupsi, kolusi, nepotisme, eksploitasi alam berlebihan, ketimpangan sosial, hukum tajam ke bawah tumpul ke atas adalah sedikit dari sejumlah masalah yang terus muncul.

Kelindan kesulitan ekonomi lagi-lagi menjadi pelengkap peliknya hidup di negeri yang konon katanya gemah ripah loh jinawi ini.

Tetapi, anak-anak muda pemberani seperti Perdana Arie ini selalu muncul untuk mewakili keresahan banyak orang.

Dia tahu, ada harga mahal yang harus dibayar karena menjadi terdakwa di ruang sidang.

Ratusan hari meski ia lewatkan di tahanan, di mana itu adalah waktu berharga untuk mereguk ilmu di bangku perkuliahan.

Di kota lain, pun banyak anak-anak muda, entah itu pelajar, mahasiswa, maupun aktivis hingga hari ini masih menghadapi persoalan hukum pascademonstrasi besar pertengahan tahun lalu.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved