Ada Geblek, Growol, Tempe Benguk, Besengek hingga Sego Tiplek di Pasar Jadul Kulon Progo
Kepala Disbud Kulon Progo, Joko Mursito menjelaskan Pasar Jadul menjadi wadah untuk mempromosikan makanan dan kesenian khas Bumi Binangun.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Disbud Kulon Progo menggelar Pasar Jadul di Omah Penthoel Art Space untuk mempromosikan makanan dan kesenian khas daerah.
- Acara menghadirkan kuliner tradisional seperti Geblek, Growol, Tempe Benguk, serta kesenian rakyat berstatus WBTB seperti Krumpyung dan Tari Angguk.
- Lima tokoh Kulon Progo menerima Piagam Penetapan WBTB 2026 sebagai apresiasi atas konsistensi menjaga warisan budaya.
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Dinas Kebudayaan (Disbud) atau Kundha Kabudayan Kulon Progo menggelar Pasar Jadul di Omah Penthoel Art Space, Kapanewon Pengasih. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (23/05/2026).
Kepala Disbud Kulon Progo, Joko Mursito menjelaskan Pasar Jadul menjadi wadah untuk mempromosikan lagi makanan dan kesenian khas Bumi Binangun.
Geblek, Growol, Tempe Benguk, Besengek
"Lewat Pasar Jadul ini kami juga menghadirkan Gelar Potensi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB)," kata Joko memberikan keterangannya pada Minggu (24/05/2026).
WBTB yang dihadirkan dalam Pasar Jadul berupa makanan khas Kulon Progo seperti Geblek, Growol, Tempe Benguk, Besengek, Gulo Klopo, Kethak, Kolombeng, Jenanglot, hingga Sego Tiplek. Makanan itu dihadirkan dalam bentuk pasar yang bisa dikunjungi oleh masyarakat umum.
Pengunjung pun juga dihibur dengan WBTB dari kesenian rakyat khas Kulon Progo. Joko mengatakan kesenian berstatus WBTB meliputi Krumpyung, Oglek, Lengger Tapeng, Incling, Panjidur, dan Tari Angguk.
"Kami juga menghadirkan pameran kerajinan pandai besi yang melegenda," ujarnya.
Edukasi, hidupkan warisan leluhur
Menurut Joko, Pasar Jadul tidak hanya menjadi ajang nostalgia, tetapi juga sebagai ruang selebrasi sekaligus edukasi untuk menghidupkan kembali warisan leluhur yang tak kasat mata. Seperti tradisi lisan, adat istiadat, seni pertunjukan, hingga kemahiran dalam kerajinan tradisional.
Pasar Jadul pun dimanfaatkan untuk mengimplementasikan kembali nilai-nilai luhur masyarakat. Termasuk terus merawat warisan budaya tak benda yang abstrak dan beraneka ragam.
"Semakin kita merawat warisan budaya tak benda yang beraneka ragam ini, maka semakin tajam pula identitas dan jati diri kita sebagai bangsa yang berbudaya," jelas Joko.
Sebanyak 5 tokoh dari Kulon Progo pun menerima Piagam Penetapan WBTB 2026 dari Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko. Piagam diberikan sebagai apresiasi atas konsistensi mereka dalam menjaga warisan leluhur.
Ambar mengajak seluruh warga Kulon Progo untuk saling mendukung dan bersatu padu untuk memelihara dan menjaga identitas budaya daerah. Pasar Jadul pun dinilai sebagai wujud apresiasi bagi tokoh masyarakat yang mampu menjaga identitas budaya.
"Sinergi semua pihak membuktikan komitmen untuk terus menjadi benteng pertahanan budaya yang kokoh, ramah, dan selalu mempesona melintasi waktu," katanya.(alx)
| Mengintip Aksi 24 Dalang Cilik dan Remaja di Festival Dhalang Kulon Progo |
|
|---|
| Guyonan Wakil Bupati Kulon Progo soal Penghapusan Program 'Geblek Renteng' |
|
|---|
| Ketua DPRD Kulon Progo soal Setahun Agung-Ambar, Soroti Kebijakan Emosional 'Preteli' Geblek Renteng |
|
|---|
| Disbud Kulon Progo Pastikan Program Penguatan Budaya Tetap Berjalan di Tengah Efisiensi Anggaran |
|
|---|
| Horok-Horok, Makanan Unik Khas Jepara yang Mulai Langka |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ada-Geblek-Growol-Tempe-Benguk-Besengek-hingga-Sego-Tiplek-di-Pasar-Jadul-Kulon-Progo.jpg)