Tribun Corner

Sebelum Ajal Menyapa, Mari Kutuk Despot Dunia

Trump diyakini tidak tahu bagaimana menghentikan palagan mengerikan ini. Semua yang terjadi di luar skenarionya.

Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump 

TRIBUNJOGJA.COM - Kelakukan Donald Trump benar-benar sulit diterima apa pun bangunan logikanya.

Dalam pengarahan dengan Kongres pada Minggu (1/3), Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon), mengakui tidak ada indikasi yang menunjukkan Iran berencana menyerang Amerika Serikat (AS) lebih dulu.

Laporan ini berbanding terbalik dengan pernyataan pejabat senior pemerintahan sehari sebelumnya.

Kala itu, Presiden Trump mengklaim bahwa serangan besar-besaran ke Iran dilakukan bersama Israel, Sabtu (28/2/2026) lalu, karena adanya ancaman mendesak terhadap pasukan AS di kawasan Teluk.

Salah seorang pejabat mengatakan, Trump tidak akan diam dan membiarkan pasukan AS di wilayah itu menanggung serangan itu.

Empat hari lalu, para pejabat Pentagon memberikan pengarahan kepada staf dari Partai Demokrat dan Republik pada beberapa komite keamanan nasional di Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat, selama lebih dari 90 menit, mengenai serangan AS yang sedang berlangsung di Iran.

Dalam pengarahan tersebut, para pejabat Pentagon menekankan, rudal balistik Iran dan pasukan proksi di kawasan itu menimbulkan ancaman nyata terhadap kepentingan AS.

Akan tetapi, tidak ada satu pun informasi intelijen tentang Teheran yang menyerang pasukan AS terlebih dahulu, menurut dua sumber yang berbicara dengan syarat anonim.

Baca juga: Ancaman Iran ke AS yang Bisa Berdampak pada Negara Lain di Dunia

Di sisi lain, Trump bersikeras bahwa operasi itu bertujuan untuk memastikan Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir, membendung program misilnya, serta menghilangkan ancaman terhadap AS dan sekutunya.

Sejauh jangkauan serta penelusuran, memang tidak ada indikasi jika bangsa yang memiliki sejarah panjang sejak ribuan tahun lalu itu akan menyerang pasukan AS yang berada di kawasan Teluk.

Pasukan Iran selama ini defensif, tidak melakukan pergerakan ofensif, kecuali membekingi beberapa kubu proxy-nya di Timur Tengah.

Kalau memang tidak ada tanda-tanda yang diyakini bahwa Iran tak akan menyerang kepentingan AS di sana–alasan Trump soal adanya kepentingan mendesak melindungi tentaranya yang selama ini bertugas–maka boleh kita sanggah dengan ucapan, omong kosong!

Keakuratan mata-mata serta data intel AS dibantu intel Mossad punya Israel sangatlah tinggi.

Membidik Ayatollah Ali Khamenei dengan satu rudal adalah contoh nyata.

Jadi, potensi tidak adanya potensi serangan dari Iran tempo hari adalah informasi krusial yang layak dijadikan acuan mengambil keputusan memencet tombol rudal perang.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved