Perang Amerika Vs Iran
Peneliti PSKP UGM Sebut Masih Ada Peluang Konflik AS-Iran Mereda
Kendati ada kemungkinan konflik mereda, namun hal itu tergantung kedua negara. Jika salah satu pihak melakukan kekeliruan kecil, perang akan terjadi
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Muhammad Fatoni
Ringkasan Berita:
- Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM, Achmad Munjid, melihat ada peluang perang Amerika Serikat (AS) dan Iran akan mereda.
- Masing-masing negara punya kepentingan untuk mengakhiri perang, baik dari sisi Amerika Serikat maupun Iran.
- Kendati ada kemungkinan konflik mereda, namun itu tergantung pada kedua negara, jika salah satu pihak melakukan kekeliruan kecil, maka perang akan terjadi lagi.
Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM, Achmad Munjid, melihat ada peluang perang Amerika Serikat (AS) dan Iran akan mereda.
Menurut dia, masing-masing negara punya kepentingan untuk mengakhiri perang.
Dari sisi Amerika Serikat, secara anggaran sudah cukup menguras.
Tekanan ekonomi global juga semakin berat.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump disebut juga akan dirugikan secara politik jika perang berkepanjangan.
Sementara dari sisi Iran, banyak pemimpin yang sudah tewas akibat perang.
Pemerintah Iran juga khawatir kondisi ekonomi semakin sulit, dan memicu gerakan perlawanan terhadap pemerintah.
"Peluang (damai) tetap ada, karena ibarat orang berkelahi, kedua belah pihak sebetulnya sudah sangat kelelahan, sudah kehilangan banyak hal. Kedua belah pihak berkepentingan untuk segera mengakhiri perang. Cuma sekarang ini saling percaya belum muncul, dan kemudian tawar-menawarnya masih maksimal," katanya, Selasa (14/4/2026).
Belum Temukan Kesepakatan
Sayangnya, keinginan untuk mengakhiri perang ini belum menemukan kesepakatan.
Negosiasi di Islamabad, Pakistan, pun memang sudah diperkirakan tidak berakhir baik.
Hal itu karena tingkat kepercayaan kedua belah pihak sangat rendah. Terlebih Iran sudah dua kali diserang di tengah perundingan.
"Kemarin sebetulnya kedua belah pihak sudah mulai mendekati kesepakatan. Tapi gagal karena ada provokasi dari Israel. Jadi Israel yang memang paling berkepentingan supaya perang terus berlangsung, supaya perundingan tidak pernah terjadi, dan kemarin bisa memengaruhi Donald Trump, sehingga gagal perundingan di Pakistan. Jadi kalau faktor Israel knk bisa ditekan, saya kira Amerika sama-sama berkepentingan segera mengakhiri perang dan berunding," ujarnya.
Baca juga: Ketegangan AS-Iran Memuncak, Blokade Selat Hormuz Ancam Jalur Perdagangan Dunia
Ia menyebut selain Pakistan, Turki menjadi negara yang bisa memediasi Amerika Serikat dan Iran.
| Presiden Prabowo Ingin Jadi Mediator Konflik AS-Iran, Begini Tanggapan Pakar UGM hingga Jusuf Kalla |
|
|---|
| Guru Besar UGM Sebut Serangan Israel dan AS ke Iran Jadi Tamparan Keras Buat Indonesia |
|
|---|
| Sikap Muhammadiyah Terkait Serangan AS-Israel ke Iran, Singgung Soal Pelanggaran HAM Internasional |
|
|---|
| Klaim Donald Trump Tewaskan Ali Khamenei, Bantahan Iran hingga Kandidat Pemimpin Selanjutnya |
|
|---|
| Ayatollah Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran yang Paling Diincar Amerika dan Israel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Perang-Iran-vs-AS.jpg)