Kata Peneliti SOREC UGM soal Fenomena Kekerasan Pelajar di DIY

Anak-anak dan pelajar saat ini tumbuh di dalam struktur kekerasan di banyak dimensi, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.

Tayang: | Diperbarui:
Dok.Istimewa
ILUSTRASI - Tawuran Pelajar 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Fenomena kasus kekerasan yang melibatkan kalangan pelajar belakangan marak muncul di wilayah DIY. 

Terbaru, pada Minggu (17/5/2026) lalu, peristiwa nahas yang merengut nyawa kembali menimpa pelajar di Kota Yogyakarta.

Peneliti Social Research Center (SOREC) Universitas Gadjah Mada (UGM), AB Widyanta, menyebut anak-anak saat ini tumbuh di dalam struktur kekerasan di banyak dimensi, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.

Dari dimensi keluarga, kekerasan bisa dirasakan anak bukan hanya dari bentakan, tetapi bisa dari sikap abai orangtua yang sibuk berkarir. Dampaknya, anak kehilangan atensi dan afeksi.

Kekerasan juga terjadi di sekolah, sebab institusi sekolah di Indonesia cenderung punitif.

Artinya, sekolah cenderung menghukum jika siswa melakukan kesalahan.

Di lingkungan masyarakat pun tak jauh berbeda.

Masyarakat cenderung menstigma, yang artinya sama-sama punitif dengan model yang berbeda.

“Kekerasan tidak selalu bentakan, kekerasan dalam pengertian membiarkan anak ketika bapak ibunya karir, lalu rumah tangga terabaikan. Atensi dan afeksi dari anak remaja kita kehilangan itu. Ada dimensi kesendirian di situ. Nah begitu juga sekolah, sekolah kita itu kan punitif, selalu saja menghukum. Lalu masyarakat sendiri juga stigmatik, sama-sama punitif dengan model yang berbeda,” katanya, Selasa (19/5/2026).

Olah Rasa dan Pengelolaan Emosi

Ia menyebut anak-anak saat ini tidak mendapatkan pelajaran soal olah rasa untuk mengelola emosi.

Padahal mengelola emosi juga penting bagi anak, khususnya remaja. 

Selain tidak mendapatkan pelajaran olah rasa baik di keluarga maupun sekolah, anak-anak tidak memiliki ruang untuk mengasah rasa.

Menurutnya, ruang-ruang publik untuk menyalurkan emosi tidak bisa diakses secara cuma-cuma.

“Artinya ini ada spiral kekerasan yang terjadi untuk anak-anak generasi ini. Anak-anak ini tumbuh di dalam struktur kekerasan di banyak dimensi. Maka satu-satunya tempat untuk menyalurkan kemarahan, persoalan-persoalan, perasaan macam-macam yang selama ini tidak direpresi, yang memperhatikan adalah peer group yang itu adalah geng,” terangnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved