Penjelasan Epidemiolog UGM Seputar Hantavirus: Risiko Rendah Jadi Pandemi
Mekanisme penularan Hantavirus tidak semudah COVID-19 karena membutuhkan kontak erat dan berlangsung lama dengan penderita.
Penulis: TON | Editor: Muhammad Fatoni
Ringkasan Berita:
- Kasus Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah munculnya wabah pada sebuah kapal pesiar
- WHO menyatakan risiko pandemi global dari wabah ini masih rendah karena penularannya memerlukan kontak erat dalam waktu lama.
- Secara umum hantavirus tetap tergolong zoonosis dengan transmisi utama dari hewan pengerat.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kasus Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah munculnya wabah pada kapal pesiar yang berlayar dari Argentina menuju Eropa.
Penyakit yang disebabkan oleh Hantavirus Strain Andes tersebut menjadi sorotan karena memiliki kemampuan penularan antar manusia, meskipun dalam tingkat terbatas.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menyatakan risiko pandemi global dari wabah ini masih rendah karena penularannya memerlukan kontak erat dalam waktu lama.
Menanggapi perkembangan tersebut, Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan online talkshow bertajuk “Hantavirus: Ancaman Lama yang Kembali Mencuri Perhatian Dunia.”
Dalam kegiatan tersebut, dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM, dr Riris Andono Ahmad, memaparkan perkembangan wabah, karakteristik virus Andes, hingga risiko penyebarannya secara global.
Karakter Strain Andes
Riris menjelaskan Hantavirus yang berasal dari jenis virus strain Andes yang dominan hidup di kawasan Pegunungan Andes, Amerika Selatan.
Virus ini diketahui dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau sindrom paru-paru yang berpotensi fatal.
Berbeda dengan sebagian besar Hantavirus lainnya, strain Andes memiliki kemampuan menular antar manusia dengan masa inkubasi berkisar antara 4 hingga 42 hari.
“Penyebab dari Hantavirus adalah strain Andes yang berasal dari daerah Amerika Selatan, Pegunungan Andes. Dia mampu menyebabkan sindrom paru-paru sehingga dapat menular antar manusia,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).
Dalam paparannya, Riris menyebut wabah pada kapal pesiar tersebut melibatkan delapan kasus infeksi yang terdiri dari enam kasus terkonfirmasi dan dua kasus tersangka.
Terdapat tiga korban meninggal dunia dari total 147 penumpang dan awak kapal.
Negara-negara terdampak meliputi Belanda, Afrika Selatan, Inggris, Jerman, Swiss, dan Argentina.
Baca juga: Waspada Strain Andes, Dosen FKKMK UGM Sebut Hantavirus Bisa Menular Antarmanusia lewat Kontak Erat
Dua Jalur Penularan
Dia menerangkan penularan Hantavirus terjadi melalui dua jalur, yakni primer dan sekunder.
Jalur primer berasal dari kontak manusia dengan tikus, termasuk melalui kotoran, urin, maupun gigitan tikus.
| Polda DIY Turun Tangan Asistensi Kasus Shinta Komala di Polresta Sleman |
|
|---|
| Dipicu Kecelakaan Lalu Lintas, Dua Suku di Papua Terlibat Perang, Belasan Tewas |
|
|---|
| Rute Maut Subuh Kelam, Kejar-kejaran Berujung Tragis, Pelajar Ngampilan Tewas Ditusuk Pelaku Klitih |
|
|---|
| Jadwal dan Lokasi SIM Corner dan SIM Keliling di Jogja Hari Ini, Senin 18 Mei 2026 |
|
|---|
| Jadwal dan Lokasi Samsat Keliling di Jogja Hari Ini, Senin 18 Mei 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20261305-Hantavirus.jpg)