Perang Amerika Vs Iran
Ayatollah Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran yang Paling Diincar Amerika dan Israel
Ayatollah Ali Khamenei mengambil alih kepemimpinan Republik Islam pada tahun 1989 setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini
Penulis: Iwan Al Khasni | Editor: Iwan Al Khasni
Ringkasan Berita:
- Ayatollah Ali Khamenei Pernah menjabat presiden Iran (1981–1989), memimpin negara di masa perang Iran–Irak. Pengalaman perang membentuk pandangannya yang penuh kewaspadaan terhadap Barat.
- Ayatollah Ali Khamenei Mengembangkan Garda Revolusi Islam (IRGC) dari pasukan paramiliter menjadi institusi kuat di bidang keamanan, politik, dan ekonomi
- Belajar Al-Qur’an sejak kecil, menempuh pendidikan di Najaf dan Qom, dekat dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini Khomeini.
Tribunjogja.com - Amerika Serikat dan Israel melancarkan putaran baru serangan terhadap Iran, kembali menggagalkan perundingan mengenai program nuklir Iran dan menimbulkan pertanyaan tentang upaya menargetkan aparat keamanan serta kepemimpinan negara tersebut.
Di antara lokasi yang diserang pada hari Sabtu di ibu kota Iran, Teheran, terdapat tempat-tempat yang terkait dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.
Siapakah Ayatollah Ali Khamenei pemimpin tertinggi Iran yang kini paling diincar oleh dua agresor Amerika Serikat dan Israel.
Dilansir dari Aljazeera, Ayatollah Ali Khamenei mengambil alih kepemimpinan Republik Islam pada tahun 1989 setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin karismatik yang memimpin revolusi Islam satu dekade sebelumnya.
Jika Khomeini adalah kekuatan ideologis di balik revolusi yang mengakhiri kekuasaan monarki Pahlavi, maka Khamenei yang membentuk aparat militer dan paramiliter yang menjadi pertahanan Iran terhadap musuh-musuhnya sekaligus memberi pengaruh jauh melampaui batas negara.
Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, ia memimpin Iran sebagai presiden dalam perang berdarah melawan Irak pada 1980-an. Konflik yang melelahkan itu, ditambah rasa terisolasi di kalangan rakyat Iran karena negara-negara Barat mendukung pemimpin Irak Saddam Hussein, memperdalam ketidakpercayaan Khamenei terhadap Barat secara umum dan Amerika Serikat secara khusus, menurut para analis.
Sentimen itu menjadi dasar pemerintahannya selama puluhan tahun dan memperkuat gagasan bahwa Iran harus selalu berada dalam keadaan siaga menghadapi ancaman eksternal maupun internal.
“Orang-orang menganggap [Iran] sebagai teokrasi, karena ia [Khamenei] mengenakan sorban dan bahasa negara adalah bahasa agama. Namun kenyataannya, ia adalah presiden masa perang yang keluar dari perang dengan asumsi bahwa Iran rentan dan membutuhkan keamanan,” kata Vali Nasr, pakar urusan Iran dan penulis Iran’s Grand Strategy: A Political History.
“Bahwa AS bermusuhan dengan Iran; dan bahwa revolusi, republik Islam, serta nasionalisme tidak terpisahkan, sehingga harus dilindungi.”
Dalam visi ini, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berkembang dari pasukan paramiliter menjadi institusi keamanan, politik, dan ekonomi yang kuat, serta menjadi pusat pengaruh Iran di kawasan. Khamenei juga mendorong “ekonomi perlawanan” untuk menumbuhkan kemandirian menghadapi sanksi Barat, mempertahankan sikap skeptis terhadap keterlibatan dengan Barat, dan merespons keras kritik yang menilai fokusnya pada pertahanan menghambat reformasi yang sangat dibutuhkan.
Namun pemerintahannya diuji berkali-kali, termasuk pada 2009 ketika demonstran turun ke jalan menentang hasil pemilu presiden yang mereka klaim curang, dan pada 2022 terkait hak-hak perempuan.
Tantangan terbesar mungkin datang pada Januari lalu, ketika protes akibat kesulitan ekonomi berkembang menjadi gejolak nasional, dengan banyak demonstran secara langsung menyerukan penggulingan Republik Islam. Respons aparat memicu salah satu konfrontasi paling keras sejak revolusi 1979.
Para pengkritik menilai ia terlalu jauh dari realitas generasi muda yang menginginkan reformasi dan perbaikan ekonomi, bukan isolasionisme dan bayang-bayang perang abadi dengan AS dan Israel.
“Iran membayar harga terlalu mahal atas penekanan berlebihan pada kemandirian nasional – dalam prosesnya, ia kehilangan dukungan rakyat karena mereka tidak lagi percaya pada kebijaksanaan kemandirian itu,” kata Nasr.
Pendidikan
Lahir pada 1939 di kota suci Syiah Mashhad, Iran timur laut, Khamenei adalah putra seorang pemimpin Muslim ternama dan etnis Azerbaijan dari Irak. Keluarganya sempat menetap di Tabriz sebelum pindah ke Mashhad, tempat ayahnya memimpin sebuah masjid Azerbaijan.
| Peneliti PSKP UGM Sebut Masih Ada Peluang Konflik AS-Iran Mereda |
|
|---|
| Presiden Prabowo Ingin Jadi Mediator Konflik AS-Iran, Begini Tanggapan Pakar UGM hingga Jusuf Kalla |
|
|---|
| Guru Besar UGM Sebut Serangan Israel dan AS ke Iran Jadi Tamparan Keras Buat Indonesia |
|
|---|
| Sikap Muhammadiyah Terkait Serangan AS-Israel ke Iran, Singgung Soal Pelanggaran HAM Internasional |
|
|---|
| Klaim Donald Trump Tewaskan Ali Khamenei, Bantahan Iran hingga Kandidat Pemimpin Selanjutnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Sosok-Ayatollah-Ali-Khamenei.jpg)