Perundingan AS-Iran di Islamabad Buntu, Pengamat UGM: Sejak Awal Sulit Berhasil

Menurut Munjid, akar utama kegagalan terletak pada rendahnya tingkat kepercayaan antara kedua pihak, yakni Iran dan Amerika Serikat

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Muhammad Fatoni
Tasnim News
DELEGASI IRAN DI PAKISTAN - Tangkapan layar Tasnim Iran, Sabtu (11/4/2026), memperlihatkan delegasi Iran tiba di Pakistan pada hari Jumat (10/4/2026) untuk melanjutkan pembicaraan dengan AS dalam upaya mengakhiri perang. Mereka dijadwal akan melanjutkan negosiasi pada hari Sabtu, 11 April 2026 di Islamabad. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gagalnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran dinilai bukan hal mengejutkan.

Sejak awal, peluang keberhasilan diplomasi kedua negara memang sudah dipandang kecil.

Hal ini disampaikan peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM, Achmad Munjid, menanggapi pernyataan Wakil Presiden AS, JD Vance, yang menyebut tidak tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen usai perundingan di Islamabad, Pakistan.

Menurut Munjid, akar utama kegagalan terletak pada rendahnya tingkat kepercayaan antara kedua pihak.

“Sejak awal banyak yang tidak optimistis. Kepercayaan antara Amerika dan Iran sangat kecil. Iran merasa sudah dua kali ‘dibohongi’ karena diserang saat proses perundingan berlangsung,” ujarnya pada Tribun Jogja, Minggu (12/4/2026).

Kondisi tersebut membuat komunikasi tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui pihak ketiga, yakni Pakistan.

Situasi ini semakin memperkecil peluang tercapainya kesepakatan.

Selain faktor kepercayaan, Munjid menilai posisi politik Iran justru sedang menguat pascakonflik.

Meski secara militer mengalami kerusakan, Iran dinilai diuntungkan secara geopolitik.

“Iran tidak merasa dirugikan jika perundingan gagal. Apalagi mereka menguasai Selat Hormuz, yang memberi keuntungan politik dan ekonomi besar,” katanya.

Tekanan di Pihak AS

Di sisi lain, tekanan justru berada di pihak Amerika Serikat (AS). 

Munjid menilai Presiden Donald Trump tengah menghadapi tekanan domestik untuk segera mengakhiri perang, terutama karena kerugian finansial yang besar.

Hal ini membuat Iran berada di posisi tawar yang lebih kuat dan cenderung menunggu tanpa harus mengalah.

Faktor lain yang dinilai krusial adalah peran Israel.

Munjid menyebut Israel sebagai pihak yang paling berkepentingan agar perundingan tidak pernah mencapai titik damai.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved