Pakar UGM Soroti Potensi Perang Global setelah Konflik Iran dan Israel
Menurutnya, ketegangan ini tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi mengubah konfigurasi kekuatan global.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Yoseph Hary W
Serangan langsung, baik lewat rudal, drone, maupun serangan siber, menjadi bukti bahwa ini bukan sekadar retorika politik.
“Ketidakhadiran mekanisme de-eskalasi yang efektif membuat risiko konflik terus membesar,” ujarnya.
Keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik ini semakin memperumit keadaan.
Setelah sempat menyangkal keterlibatan langsung, AS kini dilaporkan melancarkan serangan ke tiga fasilitas nuklir Iran yang terletak di Isfahan, Natanz, dan Fordo pada Sabtu, (21/6/2025) lalu, sebagai balasan atas serangan drone dan rudal Iran terhadap Israel.
Muhadi menyebut bahwa keterlibatan AS, yang tentu saja berada di pihak Israel, jelas akan meningkatkan eskalasi konflik.
Peran AS dalam mendukung sistem pertahanan Israel juga semakin mengaburkan batas antara dukungan strategis dan keterlibatan aktif dalam peperangan.
“Situasi ini memperbesar risiko terjadinya konflik regional berskala luas yang sulit dikendalikan jika tidak segera diredam melalui forum multilateral,” pesan Muhadi.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik Iran–Israel dapat menjadi pemicu perang global karena kedua negara memiliki hubungan dan dukungan dari negara-negara dalam blok yang saling berseberangan.
Muhadi berujar jika konflik tidak segera teratasi, keterlibatan negara lain bisa menjadikannya perang berskala global.
Ketegangan ini menciptakan atmosfer politik internasional yang mirip dengan masa Perang Dingin, di mana satu serangan bisa memicu reaksi berantai.
“Situasi semacam ini juga mengganggu stabilitas regional lainnya yang selama ini sudah rentan, seperti Suriah, Yaman, dan Lebanon,” ujarnya.
PBB Belum Efektif Respons Situasi
Muhadi juga menyayangkan keberadaan lembaga internasional seperti PBB belum menunjukkan efektivitas yang memadai dalam merespons situasi ini.
Dewan Keamanan PBB sering kali tidak mencapai kesepakatan karena posisi negara-negara besar yang saling berseberangan.
Meskipun Majelis Umum PBB dapat mengeluarkan resolusi, pelaksanaannya sangat tergantung pada dukungan politik yang tidak selalu tersedia.
Pakar UGM: Soal Royalti, Perlu Transparansi Pengelolaan Dananya |
![]() |
---|
Bagaimana Penyelesaian Ambalat yang Ideal? Begini Kata Pakar UGM |
![]() |
---|
Serangan Drone Israel Incar Koresponden Al Jazeera di Luar Rumah Sakit Al-Shifa |
![]() |
---|
Di Balik Keputusan Presiden Prabowo Beri Amnesti untuk Hasto dan Abolisi untuk Tom Lembong |
![]() |
---|
Pemblokiran Rekening Nganggur oleh PPATK, Pakar UGM: Kebijakan yang Kurang Profesional |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.