Pakar UGM Soroti Potensi Perang Global setelah Konflik Iran dan Israel

Menurutnya, ketegangan ini tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi mengubah konfigurasi kekuatan global.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Yoseph Hary W
google earth
PETA WILAYAH: Perang Iran-Israel tak dapat dihindari setelah serangan zionis ke ibu kota Iran, Teheran. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ketegangan antara Iran dan Israel kini memasuki babak baru. Sebelum serangan Israel pada 13 Juni lalu, benturan langsung pertama terjadi pada April 2024 silam saat Iran meluncurkan serangan besar berupa rudal dan drone.

Serangan tersebut menandai eskalasi paling signifikan dalam sejarah hubungan kedua negara, memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Dunia internasional pun mulai menaruh perhatian terhadap arah konflik ini, bahkan tidak sedikit yang menyebutnya sebagai ancaman nyata menuju perang global.

“Situasi ini menjadi sorotan banyak pihak karena keterlibatan aktor-aktor besar dunia bisa mempercepat dinamika menuju ketegangan geopolitik global,” ujar Drs. Muhadi Sugiono, M.A, Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada, Senin (23/6/2025).

Menurutnya, ketegangan ini tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi mengubah konfigurasi kekuatan global.

Dinamika politik yang muncul menunjukkan betapa rentannya sistem internasional terhadap konflik berkepanjangan.

Konflik Iran–Israel, kata dia, bukan hanya pertarungan dua negara, melainkan refleksi dari benturan ideologi, sejarah, dan rivalitas kekuasaan yang sudah berlangsung lama.

Muhadi berpendapat, serangan Israel terhadap Iran yang belakangan terjadi bukan semata aksi sepihak, tetapi mencerminkan usaha sistematis untuk menghancurkan kemampuan nuklir Iran dengan menyerang fasilitas, ilmuwan, dan pejabat militernya.

Laporan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) 2024 menyebut bahwa Iran memperkaya uranium hingga 60 persen, melebihi batas ketentuan.

Namun sampai saat ini, belum ada bukti yang menyatakan bahwa Iran secara aktif memproduksi senjata nuklir.

“Serangan Israel dilakukan dengan dalih Iran melanggar Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), namun ini ironi karena Israel sendiri tidak menandatangani NPT dan tidak tunduk pada rejim nuklir internasional,” jelasnya.

Eskalasi ini telah berubah menjadi konflik terbuka, meskipun belum ada deklarasi perang resmi dari kedua belah pihak.

Sikap permusuhan dan saling serang yang terjadi sudah memenuhi kriteria untuk menuju perang terbuka.

Muhadi menggarisbawahi bahwa keterlibatan militer secara langsung, bahkan tanpa pengakuan formal, tetap menunjukkan bahwa dinamika konflik telah menembus ambang batas normal diplomasi.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved