Liputan Khusus

Pedagang Takut Pelanggan Kabur, Khawatir Kenaikan PPN Picu Lonjakan Harga Bahan Pokok

Para pedagang khawatir kenaikan PPN itu berefek domino hingga memicu kenaikan harga bahan pokok dan berujung turunnya permintaan

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Nanda Sagita Ginting
Penjual daging di Pasar Argosari Gunungkidul, Senin (23/12/2024) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Rencana kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) 12 persen mulai awal Januari 2025 menimbulkan keresahan tersendiri di kalangan pedagang.

Para pedagang khawatir kenaikan PPN itu berefek domino hingga memicu kenaikan harga bahan pokok dan berujung turunnya permintaan hingga kaburnya pelanggan.

Apalagi, harga beberapa komoditas saat ini juga sudah mulai merangkak naik.

Pantauan Tribun Jogja di Pasar Beringharjo, Kota Yogya, Senin (23/12), harga beras premium masih di angka Rp16.000 per kg, sedangkan SPHP berkisar Rp10.000-12.000 per kg.

Kemudian, minyak goreng kemasan premium Rp18.000 per liter, Minyakita Rp15.700, telur ayam ras antara Rp27.000-30.000 per kilogram (kg), serta gula pasir curah di kisaran Rp17.000.

Namun, pedagang di Pasar Beringharjo, Kota Yogya, Sri Handani, mengaku tetap khawatir dengan kebijakan kenaikan PPN jadi 12 persen mulai tahun depan.

Terlebih, berdasar kabar angin yang didengarnya beberapa hari terakhir, lonjakan pajak tersebut bakal memberi pengaruh terhadap harga-harga kebutuhan pokok.

Baca juga: PHRI Gunungkidul Targetkan Okupansi Hotel Capai 90 Persen saat Libur Nataru

"Harga nanti pasti terpengaruh, jadi lebih tinggi. Khawatirnya, ya, permintaannya berkurang. Apalagi, di awal-awal, butuh penyesuaian. Tapi, selanjutnya itu jadi biasa. Kayak dulu (PPN) dari 10 persen ke 11 persen, sekarang ke 12 persen. Tapi, ini belum berpengaruh, kalau dengar-dengar ya mulai Januari ada kenaikan," katanya.

Pedagang lainnya, Ida Chabibah, menuturkan, 80 persen harga sayur mayur saat ini memang mengalami lonjakan akibat momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) dan musim hujan. Menurutnya, lonjakan banderol bahan pangan itu merupakan siklus yang lumrah dan biasa terjadi setiap tahunnya.

"Cabai rawit, cabai keriting, cabai teropong, naik semua. Yang paling menonjol cabai keriting, sekarang sudah Rp60.000. Dari 25 (ribu), 30, sekarang 60, langsung drastis," katanya.

Menurutnya, sejauh ini belum terlihat tanda-tanda kenaikan harga kebutuhan pokok yang disebabkan oleh kebijakan PPN 12 persen mulai Januari tahun depan.

Meski demikian, ia tidak menampik, ada kekhawatiran banderol sayur-mayur yang merupakan komoditas dagangannya, ikut terpengaruh.
"Ya khawatir, karena bisa berpengaruh (ke penjualan) kalau harganya naik. Tapi kita enjoy saja ya, mengalir saja. Toh, penyebab naik turunnya harga juga bermacam-macam," urainya. 

Kabar dari pemasok

Wardi (62), penjual bahan pokok di Pasar Bantul, mengaku sudah mendengar kabar dari pihak supplier atau pemasok bahwa harga jual beberapa bahan pokok bakal naik tahun depan, sebagai imbas kenaikan PPN 12 persen. Sayangnya, belum diketahui pasti besaran kenaikan harga itu.

"Kemungkinan minyak goreng itu harga jualnya naik. Tapi, saya belum dikasih tahu besok per liternya naik jadi berapa," ucapnya kepada Tribun Jogja, Senin (23/12) di Pasar Bantul.

Untuk saat ini, harga jual minyak goreng disebut-sebut masih stabil. Minyak goreng merek Rizky berada di harga Rp17.000 per liter, merek Sunco Rp20.000 per liter, dan merek MinyaKita Rp16.000 per liter.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved