Berita Internasional

Jatuhnya Damaskus Pertanda Buruk untuk Iran dan Rusia 

Serangan besar kelompok proksi asing ini dimulai 27 November 2024, tepat saat gencatan senjata Israel-Lebanon mulai diberlakukan.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Muhammad Fatoni
Tangkapan Layar YouTube CNN News18
Perang di Suriah Pemberontak Kuasai Ibu Kota, Presiden dalam Pencarian, PM Angkat Bicara 

Tukar menukar serangan memang terjadi sporadis antara pasukan Suriah dan kelompok ini meski pasukan Turki menjadi pengawas di Idlib. 

Kemudian pecah perang besar Israel-Hamas di Jalur Gaza sejak Oktober 2023, dan Hizbullah Lebanon turut terlibat pertempuran dengan Israel di Lebanon Selatan. 

Kelompok-kelompok bersenjata di Provinsi Idlib ini berdiam diri. Mereka tidak membantu atau membela warga Palestina dan Lebanon yang digempur habis-habisan oleh Israel.

Hingga momentum itu tiba pada 27 November 2024. Seperti dirancang secara cermat, saat Hamas dan Hizbullah melemah, dan perang di Lebanon perlahan mereda, kelompok Idlib membat gempar.

Mulai hari ini situasi dan posisi Suriah di Timur Tengah mulai berubah.

Jatuhnya Damaskus dan Bashar Assad membuat geopolitik kawasan ini perlahan akan semakin menguntungkan Israel.

Bahkan mungkin pada saatnya ancaman keamanan terhadap Israel akan mencapai titik nol atau tidak ada sama sekali.

Jaringan Iran mungkin akan diputus, Rusia akan meninggalkan Suriah, dan seperti fakta yang sudah banyak diketahui umum, kelompok yang berkuasa akan kooperatif terhadap Israel.

Rezim baru yang disokong Turki dan akan memimpin Suriah, berpotensi menghilangkan segala ancaman yang selama ini paling dikhawatirkan Israel. 

Jika peta politiknya seperti ini, kejatuhan Bashar Al-Assad memang memberi perubahan signifikan atas geopolitik Timur Tengah, dan ini sangat tidak terduga.

Kekuatan yang merancang secara cermat tsunami politik di Suriah ini jelas sangat kuat, jeli, dan memiliki kalkulasi yang sangat akurat terhadap momentum.

Tiga kekuatan intelijen terkemuka, CIA, MI6, dan Mossad mempunyai kontribusi besar atas kisah sukses pendongkelan rezim di Suriah ini.

Sementara posisi Turki di bawah Presiden Tayyip Erdogan, seperti biasa, terampil memainkan permainan ganda. 

Baca juga: PM Suriah Tak Kabur Bareng Assad, Sebut Siap Kerja Sama dengan Pimpinan Pilihan Rakyat

Secara retoris, Ankara mendukung Palestina yang bebas genosida dan berdaulat. Dalam praktiknya, Turki mendukung dan mendanai kelompok jihadis di Idlib Suriah.

Mereka turut memfasilitasi pelatihan taktik perang drone oleh intelijen Ukraina yang mendapatkan pendanaan Qatar.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved