Berita Internasional

Jatuhnya Damaskus Pertanda Buruk untuk Iran dan Rusia 

Serangan besar kelompok proksi asing ini dimulai 27 November 2024, tepat saat gencatan senjata Israel-Lebanon mulai diberlakukan.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Muhammad Fatoni
Tangkapan Layar YouTube CNN News18
Perang di Suriah Pemberontak Kuasai Ibu Kota, Presiden dalam Pencarian, PM Angkat Bicara 

TRIBUNJOGJA.COM - Damaskus telah jatuh Minggu 8 Desember 2024, Istana dikuasai pemberontak, dan Presiden Suriah Bashar Al-Assad dikabarkan terbang ke suatu tempat yang belum diberitahukan tujuannya.

Rentetan tembakan senapan serbu dilepaskan para petempur Hayat Tahrir Sham atau HTS, yang mulai membanjiri komplek Istana Kepresidenan Damaskus yang luas.

HTS ini dulunya bernama Jabhat al Nusra atau Front Al Nusra. Jabhat Al Nusra pernah dimasukkan daftar organisasi yang memiliki jaringan dengan kelompok Al Qaeda yang didirikan Osama bin Laden.

Kejatuhan rezim Baath terakhir di Timur Tengah ini memuncaki serangan kilat kelompok militan bersenjata dari Idlib yang didukung Turki, Israel, dan kekuatan barat seperti Ukraina, Amerika, dan Inggris.

Serangan besar kelompok proksi asing ini dimulai 27 November 2024, tepat saat gencatan senjata Israel-Lebanon mulai diberlakukan.

Mereka menyapu pertahanan pasukan Suriah yang didukung Rusia di jalan raya M5 yang memisahkan Provinsi Idlib dan Provinsi Aleppo.

Dalam temo dua hari, kelompok bersenjata yang Sebagian pernah jadi jaringan Al Qaeda itu mematahkan pasukan Suriah dan langsung menduduki kota kuno Aleppo.

Dari Aleppo, nyaris tanpa bisa dibendung, kelompok HTS dan Free Syrian Army yang dibekingi Turki menerjang ke Kota Hama, lalu Homs, sebelum memasuki Damaskus.

Pemimpin Hayat Tahrir al-Sham, Abu Mohammed al-Julani, mengumumkan Damaskus telah mereka kuasai. 

Presiden Bashar Al-Assad disebutnya telah meninggalkan negara itu, dan semua lembaga negara akan tetap berada di bawah kendali Perdana Menteri Suriah Mohammad Ghazi al-Jalali.

Dalam pernyataannya yang dikutip Al Jazeera dan Al Arabiya, Ghazi al-Jalali menyatakan kesiapannya bekerja sama dengan pemerintah mana pun yang dipilih warga Suriah.

"Kami siap bekerja sama dengan pemerintah mana pun yang dipilih warga Suriah," kata Ghazi al-Jalali yang berada di rumahnya saat militan bersenjata memasuki Damaskus.

Baca juga: Perang di Suriah Pemberontak Kuasai Ibu Kota, Presiden dalam Pencarian, PM Angkat Bicara

Apa yang sesunguhnya sedang menimpa Suriah? Mengapa kelompok pemberontak begitu cepat meruntuhkan rezim Bashar Al-Assad? Siapa paling diuntungkan secara geopolitik atas perkembangan ini? 

Kejatuhan Damaskus dan Bashar al-Assad serta goncangnya rezim Baathis Suriah sangat mengejutkan bagi sebagian kalangan. 

Kekalahannya begitu kilat, tidak terduga, dan tidak terbayangkan akan terjadi hanya dalam tempo dua pekan sejak kelompok HTS dan FSA memulai operasi ke Aleppo.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved