Berita Internasional
Jatuhnya Damaskus Pertanda Buruk untuk Iran dan Rusia
Serangan besar kelompok proksi asing ini dimulai 27 November 2024, tepat saat gencatan senjata Israel-Lebanon mulai diberlakukan.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Muhammad Fatoni
Dalam konteks perjuangan Palestina yang dipersekusi secara kejam oleh Israel, jika kelompok militan Idlib adalah pejuang Islam, mereka harusnya berbaris masuk ke Gaza atau Lebanon, membela Palestina.
Tapi itu tidak terjadi. Sebaliknya, ada banyak bukti kelompok-kelompok ini justru memperoleh fasilitas pengobatan oleh Israel ketika jadi korban pertempuran melawan pasukan Suriah.
Sementara rezim Bashar Assad yang mereka musuhi sampai tulang sumsum, faktanya selama bertahun-tahun telah menampung ribuan pengungsi Palestina.
Terhadap Lebanon, pemerintah Suriah tidak pernah goyah memberikan dukungan. Ini adalah ikatan historis selama ribuan tahun antara Damaskus dan Beirut.
Apakah pandangan dan penilaian ini subjeektif? Bisa jadi ada faktor subjektif, namun realitas objektif Asia Barat memperlihatkan konflik di wilayah ini tidak bersifat sederhana.
Pertikaiannya merupakan campuran kompleks dari vektor nasional, sektarian, suku, dan agama.
Perangnya bisa tidak berkesudahan, tapi kadang dapat dikendalikan sampai batas tertentu.
Kehadiran Rusia di Suriah mungkin dalam batas tertentu mampu melindungi Sejarah politik Suriah, dengan membebaskan kota-kota terpenting dari penguasaan kelompok militant salafis jihadis.
Tapi hari ini fakta berbicara lain. Rusia tidak lagi mampu melindungi Suriah, karena faktor perang Ukraina yang menyita energi dan konsentrasi mereka.
Gencatan senjata di Idlib versi Sochi yang difasilitasi Iran, Rusia, dan Turki yang setengah hati, tidak pernah bisa menyelesaikan masalah.
Pada akhirnya, kekuatan bersenjata yang dikendalikan di Idlib, dilepaskan dengan kekuatan penuh, didukung kekuatan besar Arab, Turki, Israel, dan tentu saja barat.
Rusia sepenuhnya fokus pada masalah Ukraina. Hizbullah sangat menderita akibat pemboman dan pembunuhan para pemimpin utamanya.
Sedangkan Teheran sepenuhnya berkonsentrasi pada cara menghadapi kedatangan rezim Donald Trump yang pernah bersikap sangat keras terhadap Iran.
TRIBUNNERS
Pepe Escobar, seorang analis geopolitik menulis di Sputniknews, sejarah selalu memberi pelajaran pada kita.
Suriah sekarang adalah Anabasis Asia Barat.
Xenophon, seorang prajurit dan penulis masa kuno, memberi tahu kita bagaimana, pada abad ke-4 Sebelum Masehi, sebuah ekspedisi atau anabasis dalam bahasa Yunani Kuno, yang terdiri dari 10.000 tentara bayaran Yunani dikerahkan oleh Cyrus Muda untuk melawan saudaranya, Artaxerxes II, Raja Persia, dari Armenia ke Laut Hitam.
Ekspedisi itu gagal total, dan perjalanan pulang yang menyakitkan itu tidak ada habisnya.
Dua ribu empat ratus tahun kemudian, kita melihat pemerintah, tentara, dan tentara bayaran masih terjun ke dalam perang di Asia Barat yang semakin sulit.
Suriah kini lelah, terkuras, dan militernya terlena oleh situasi perang yang telah lama terhenti sejak 2020.
Jatuhnya Damaskus dan terjungkalnya Bashar Al-Assad adalah sebuah keniscayaan, dan sesuatu yang tidak bisa dibendung lagi.
Tidak ada yang dapat mengalahkan hydra hegemonik yang kejam, hanya dengan kekuatan bunga, dan Israel kini menjadi pihak yang paling berbunga-bunga atas perubahan rezim di Suriah.
Satu ancaman paling mematikan yang ditakuti selama berpuluh-puluh tahun, telah dijinakkan.
(*/ tribunjogja.com)
| Sosok Park Chung Hee, Tokoh Korea yang Diidolakan Presiden Prabowo |
|
|---|
| Kenapa Timor Laste Harus Menunggu 14 Tahun dan Baru Bisa Masuk ASEAN? |
|
|---|
| Timor Leste Resmi Jadi Anggota ASEAN ke-11, Akhiri Penantian Panjang Selama 14 Tahun |
|
|---|
| Shutdown di Amerika Serikat: Apa Itu, Mengapa Terjadi, dan Bagaimana Dampaknya? |
|
|---|
| 158 Daftar Negara Anggota PBB yang Akui Palestina, Lengkap dengan Tanggal Pengakuan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Perang-di-Suriah-Pemberontak-Kuasai-Ibu-Kota-Presiden-dalam-Pencarian-PM-Angkat-Bicara.jpg)