Berita Internasional
Jatuhnya Damaskus Pertanda Buruk untuk Iran dan Rusia
Serangan besar kelompok proksi asing ini dimulai 27 November 2024, tepat saat gencatan senjata Israel-Lebanon mulai diberlakukan.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Muhammad Fatoni
Runtuhnya pertahanan militer Suriah di tangan kelompok bersenjata dari Idlib memperlihatkan realitas betapa lemahnya pengaruh dan dukungan Iran dan Rusia ke negara ini.
Menurunnya kemampuan kedua negara ini memberi dukungan dan perlindungan militer ke Suriah terjadi seiring pecahnya perang di Ukraina dan hancurnya Hamas serta Hizbullah Lebanon.
Pos-pos serta instalasi militer Iran di Suriah yang selama ini jadi pijakan menuju Lebanon dan Jalur Gaza, juga berantakan setelah berulangkali mendapatkan serangan penghancur dari Israel.
Rusia pun mengurangi kehadiran armada militernya di Pangkalan Laut Tartus dan Pangkalan Udara Hmeimim, karena dikerahkan ke Ukraina.
Sementara pasukan Suriah atau yang kerap disebut Pasukan Arab Suriah, mengalami kemerosotan kemampuan akibat perang melelahkan selama bertahun-tahun.
Perang yang terjadi di Suriah telah menguras kemampuan ekonomi, merusak mental tempur, dan melemahkan spirit militer di semua lini.
Di tangan Presiden Bashar Al-Assad, Suriah menderita kerugian luar biasa ketika Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS memulai kampanye kejamnya dari Mosul Irak.
Kelompok ini menyapu daratan Irak utara dan memasuki Suriah lewat Irak maupun Turki. Mereka mendirikan ibu kota kekhalifahan ISIS di Kota Raqqa Suriah Utara.
Di saat bersamaan, bermunculan kelompok bersenjata yang ingin mendongkel Bashar Al-Assad. Ini kelompok proksi yang didanai Turki, Saudi, Emirat Arab, dan didukung kekuatan barat, termasuk Israel.
Bashar Assad dianggap bertindak kejam terhadap kelompok-kelompok Wahabi Sunni, dan terlampau pro-Iran dan memberi dukungan kuat untuk Hizbullah dan Hamas.
Ketika ancaman ISIS dan kelompok pemberontak non-ISIS memuncak, Bashar Assad meminta bantuan Rusia dan Iran.
Perlahan pasukan Damaskus menahan laju ofensis ISIS dan kelompok non-ISIS, sebelum akhirnya berhasil memukul mundur mereka.
Kelompok bersenjata non-ISIS dilokalisir ke Provinsi Idlib, sementara kekuatan ISIS dihancurkan oleh pasukan Suriah maupun kelompok Kurdi yang didukung Amerika.
Berbarengan waktunya, kelompok ISIS di Irak dihancurkan oleh pasukan Irak yang dibantu paramiliter Syiah Irak dan pasukan elite Al Quds Garda Republik Islam Iran.
Selama lima tahun terakhir, kelompok non-ISIS yang terdiri dari banyak faksi bertahan di Idlib di bawah kerangka gencatan senjata yang dimediasi Turki dan Rusia.
| Sosok Park Chung Hee, Tokoh Korea yang Diidolakan Presiden Prabowo |
|
|---|
| Kenapa Timor Laste Harus Menunggu 14 Tahun dan Baru Bisa Masuk ASEAN? |
|
|---|
| Timor Leste Resmi Jadi Anggota ASEAN ke-11, Akhiri Penantian Panjang Selama 14 Tahun |
|
|---|
| Shutdown di Amerika Serikat: Apa Itu, Mengapa Terjadi, dan Bagaimana Dampaknya? |
|
|---|
| 158 Daftar Negara Anggota PBB yang Akui Palestina, Lengkap dengan Tanggal Pengakuan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Perang-di-Suriah-Pemberontak-Kuasai-Ibu-Kota-Presiden-dalam-Pencarian-PM-Angkat-Bicara.jpg)