Tour de UMKM

Cerita Mbah Gito, Perajin Besek Bambu di Bantul yang Kerap Kebanjiran Order saat Iduladha

Awalnya, perempuan yang kini berusia 75 tahun itu kerap melihat orang-orang di sekitar lingkungannya membuat besek dari bahan bambu. 

Tayang: | Diperbarui:
TRIBUNJOGJA.COM/ Neti Istimewa Rukmana
eorang perajin besek bambu, Mbah Gito, sedang membuat besek bambu di kediamannya di Kalurahan Pendowoharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, Minggu (16/6/2024). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Seorang nenek benama Narimo Sugito terlihat sibuk di depan rumahnya yang berada di Kalurahan Pendowoharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, Minggu (16/6/2024) sore.

Tangannya tampak cekatan merangkai anyaman bambu untuk dibuat menjadi besek atau keranjang yang biasanya dipergunakan membawa atau membungkus makanan.

"Saya sudah lama buka usaha ini. Ya adalah sejak sekitar 1980-an," ucap perempuan perajin bambu yang kerap disapa Mbah Gito.

Dikatakannya, usaha itu digeluti secara otodidak.

Di mana dulu perempuan yang kini berusia 75 tahun itu kerap melihat orang-orang di sekitar lingkungannya membuat besek dari bahan bambu. 

Lalu, perlahan-lahan dia mulai belajar hingga kemudian bisa membuat besek yang kini dilirik oleh konsumen dari berbagai daerah.

Kata Mbah Gito, setiap pagi sampai sore hari ia selalu berada di depan rumah untuk membuat besek dari anyaman bambu. 

Baca juga: Iduladha Tanpa Sampah Plastik, DLH Gunungkidul Dorong Penggunaan Besek

Namun, banyaknya pesanan yang masuk membuat dia kewalahan dan tak saggup mengerjakan sendiri.

Maka dari itu, sekitar 10 orang tetangganya juga diajak untuk membantu membuat besek demi memenuhi kebutuhan permintaan pelanggan.

"Pesanannya lumayan banyak. Biasanya seminggu bisa sampai dua ratusan besek. Tapi bisa kurang dan bisa lebih. Ya tergantung dengan permintaan," tutur dia.

Momen Iduladha 2024 juga membuat dia kewalahan menerima pesanan dari konsumen.

Ada banyak konsumen dari berbagai daerah yang sudah memesan besek di tempatnya.

"Biasanya untuk besek yang dipesan saat Iduladha itu ukuran 30x30 sentimeter. Karena biasanya setelah potong hewan kurban, banyak yang bungkus pakai besek," ucapnya.

Tidak hanya itu, untuk besek berukuran 21x21 sentimeter kata mbah Gito juga banyak dicari oleh konsumen.

Namun, besek ukuran segitu, rata-rata dipergunakan untuk mengantar makanan saat hajatan atau pesta pernikahan dan momen lainnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved