Merayakan Kelulusan Tanpa Bising: Tradisi Jalan Kaki dan Berbagi ala SMA Kolese De Britto Yogyakarta
Ratusan siswa lulusan SMA Kolese De Britto Yogyakarta merayakan momen purnawiyata mereka dengan berjalan kaki sejauh 3,7 kilometer menuju Tugu Jogja.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
Ringkasan Berita:
- 288 siswa lulusan SMA Kolese De Britto Yogyakarta merayakan momen kelulusan dengan berjalan kaki sejauh 3,7 kilometer menuju Tugu Jogja.
- Langkah kaki ratusan siswa ini merupakan bentuk ungkapan syukur sekaligus kritik terhadap budaya kelulusan yang meresahkan masyarakat.
- Ratusan siswa tersebut juga membagikan sekitar 200 paket sembako yang berisi beras, telur, minyak goreng, dan mi instan.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Perayaan kelulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) kerap kali diwarnai dengan aksi konvoi sepeda motor yang memekakkan telinga hingga aksi corat-coret seragam sekolah.
Namun, pemandangan berbeda justru tersaji di jantung Kota Yogyakarta pada Sabtu (9/5/2026).
Sebanyak 288 siswa lulusan SMA Kolese De Britto Yogyakarta merayakan momen purnawiyata mereka dengan berjalan kaki sejauh 3,7 kilometer menuju Tugu Jogja.
Bukan sekadar euforia tanpa makna, langkah kaki ratusan siswa dari Jalan Laksda Adisutjipto 161 menuju ikon DIY tersebut merupakan bentuk ungkapan syukur sekaligus kritik terhadap budaya kelulusan yang meresahkan masyarakat.
Sebelum turun ke jalan, para siswa ini terlebih dahulu mengikuti prosesi pengukuhan dan pelepasan resmi di sekolah yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 11.30 WIB.
Setelah pihak sekolah secara resmi menyerahkan kembali para siswa kepada orangtua masing-masing, barulah tradisi kebanggaan ini dimulai.
Sejarah dan Nilai Filosofis
Wakil Kepala Urusan Humas SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Christophorus Danang Wahyu Prasetio, mengungkapkan bahwa kegiatan ini memiliki sejarah dan nilai filosofis yang mengakar sejak puluhan tahun silam.
"Sebetulnya itu bukan tradisi. Artinya, itu kan kalau tidak salah mulai tahun 90-an akhir atau masuk 2000 awal. Awal mulanya karena waktu itu banyak sekolah-sekolah yang ketika kelulusan, mereka corat-coret, terus konvoi, dan sebagainya. Hal itu kan mengganggu masyarakat umum dan tidak baik. Maka untuk meredam situasi itu, De Britto mencoba cara lain," ujar Danang kepada Tribun Jogja.
Lebih lanjut, Danang menjelaskan bahwa perjalanan menuju Tugu juga merupakan bentuk manifestasi dari keberagaman siswa De Britto yang datang dari berbagai penjuru Nusantara.
"De Britto itu Indonesia mini. Artinya, latar belakang siswanya dari berbagai penjuru Indonesia, beragam. Maka ketika mereka berada di Jogja, ketika mereka lulus, Jalan ke Tugu itu sebagai ungkapan syukur bahwa, 'Aku sudah berada di Jogja, aku diterima di Jogja, aku berkembang di Jogja.' Ungkapan syukur ketika lulus De Britto ini bisa dibilang nazar, ya. Nazar untuk menyampaikan ungkapan syukurnya dengan jalan ke Tugu. Dan di Tugu cuma menyanyikan mars saja. Setelah itu terus bubar kembali ke sekolah," tambahnya.
Seiring berjalannya waktu, pihak sekolah tidak ingin kegiatan ini berhenti pada sekadar rutinitas fisik.
Kepamongan dan kesiswaan De Britto selalu menantang para siswa untuk menemukan makna di balik langkah mereka.
Tahun ini, pembuktian makna tersebut diwujudkan dengan aksi sosial.
Sembari menempuh perjalanan, ratusan siswa tersebut membagikan sekitar 200 paket sembako yang berisi beras, telur, minyak goreng, dan mi instan.
| PSIM Yogyakarta vs Malut United : Misi Laskar Mataram Akhiri Tren Negatif |
|
|---|
| Aktivitas Gunung Merapi Pagi Ini Minggu 10 Mei 2026: BPPTKG Catat 1 Kali Guguran Lava |
|
|---|
| PSIM Yogyakarta Punya Modal Bagus Lawan Malut United, Optimistis Akhiri Puasa Kemenangan |
|
|---|
| Pakar Gizi Unisa Ungkap Bahaya Kantong Kresek Buat Daging Kurban: Mengandung Zat Karsinogen |
|
|---|
| Roadshow ANTARIKSA UNISA Yogyakarta Edukasi Bahaya Judi Online di SMAN 1 Sedayu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20261005-Lulusan-SMA-De-Britto-Jogja.jpg)