Saatnya Bekerja untuk Iklim:  Dari Kesadaran Menuju Transformasi Peradaban

Perubahan iklim menjadi salah satu penanda paling nyata dari krisis tersebut

Tayang:
Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Eduward Hutapea, Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa 

Oleh: Eduward Hutapea

Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa

Banjir yang merendam permukiman, kekeringan yang melanda desa-desa, suhu udara yang kian menyengat, serta cuaca yang semakin sulit diprediksi sering dianggap sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. 

Padahal, berbagai fenomena tersebut merupakan bagian dari krisis yang lebih besar: krisis relasi antara manusia dan alam.

Dalam konteks itulah tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, "Saatnya Bekerja untuk Iklim", menemukan relevansinya. 

Tema ini bukan sekadar seruan untuk melakukan aksi lingkungan, melainkan panggilan untuk meninjau kembali cara manusia memandang bumi dan arah pembangunan yang selama ini ditempuh. Sebab persoalan lingkungan tidak semata-mata berakar pada keterbatasan teknologi atau lemahnya regulasi, tetapi juga pada cara berpikir dan cara hidup yang membentuk hubungan kita dengan alam.

Selama beberapa dekade, pembangunan sering dipahami sebagai upaya meningkatkan produksi, memperluas konsumsi, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. 

Alam diperlakukan sebagai penyedia sumber daya yang seolah tidak memiliki batas. Hutan dihitung dari nilai kayunya, sungai dinilai dari manfaat ekonominya, dan tanah dipandang semata sebagai ruang produksi.

Paradigma tersebut memang menghasilkan kemajuan. 

Namun pada saat yang sama, ia menyisakan biaya ekologis yang tidak kecil. 

Kerusakan lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, menurunnya kualitas sumber daya air, hingga perubahan iklim merupakan tagihan yang kini harus dibayar akibat pembangunan yang tidak sepenuhnya memperhitungkan daya dukung lingkungan.

Perubahan iklim menjadi salah satu penanda paling nyata dari krisis tersebut. 

Dampaknya tidak lagi berada di masa depan; ia hadir dalam kehidupan sehari-hari. Di Pulau Jawa, yang menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, industri, dan permukiman terbesar di Indonesia, tekanan terhadap lingkungan semakin terasa. Pertumbuhan penduduk, alih fungsi lahan, pencemaran, eksploitasi sumber daya alam, dan meningkatnya timbulan sampah membentuk persoalan yang saling berkaitan. 

Baca juga: Orasi Anak-anak Driver Ojol di Jogja: Kami Tak Ingin Tumbuh di Negeri Penuh Korupsi

Dengan lebih dari separuh penduduk Indonesia tinggal di Jawa, keberhasilan aksi iklim di wilayah ini akan sangat menentukan keberhasilan agenda lingkungan nasional.

Karena itu, perubahan iklim tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan kenaikan suhu global. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved