Saatnya Bekerja untuk Iklim:  Dari Kesadaran Menuju Transformasi Peradaban

Perubahan iklim menjadi salah satu penanda paling nyata dari krisis tersebut

Tayang:
Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Eduward Hutapea, Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa 

Di tingkat lokal, ia hadir dalam bentuk yang lebih nyata: banjir yang semakin sering, musim kemarau yang semakin panjang, berkurangnya ketersediaan air bersih, menurunnya produktivitas pertanian, meningkatnya risiko penyakit, hingga bertambahnya kerentanan masyarakat terhadap bencana lingkungan.

Yang lebih memprihatinkan, mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca justru sering menjadi kelompok yang paling terdampak. 

Petani kecil yang kehilangan kepastian musim tanam, nelayan yang menghadapi cuaca yang tidak menentu, masyarakat pesisir yang terancam abrasi dan banjir rob, serta warga perkotaan yang tinggal di kawasan rawan banjir merupakan wajah nyata ketidakadilan iklim.

Karena itu, aksi iklim tidak boleh dipersempit menjadi sekadar agenda pengurangan emisi karbon. 

Aksi iklim pada hakikatnya adalah upaya membangun kembali keseimbangan antara manusia, alam, dan pembangunan agar sumber daya yang ada tetap mampu menopang kehidupan generasi sekarang tanpa mengorbankan generasi mendatang.

Tantangan tersebut menuntut lebih dari sekadar inovasi teknologi dan penambahan regulasi. 

Yang dibutuhkan adalah transformasi budaya. 

Budaya konsumsi berlebihan perlu bergeser menuju pola hidup yang lebih bijaksana. 

Budaya membuang harus berubah menjadi budaya mengelola. Budaya eksploitasi harus digantikan dengan budaya pemulihan dan perawatan.

Transformasi itu dapat dimulai dari tindakan sederhana: memilah sampah dari sumbernya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat energi dan air, menggunakan transportasi yang lebih ramah lingkungan, menanam pohon, serta menjaga kebersihan sungai. 

Langkah-langkah tersebut mungkin tampak kecil, tetapi perubahan besar selalu lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dan kolektif.

Berbagai upaya telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari penguatan regulasi, pembinaan pemerintah daerah, pengawasan ketaatan pelaku usaha, rehabilitasi ekosistem, hingga pengembangan ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

Namun harus diakui bahwa tantangan yang dihadapi masih besar. 

Pengelolaan sampah belum sepenuhnya optimal, pencemaran masih terjadi di berbagai tempat, dan tekanan terhadap sumber daya alam terus meningkat.

Di berbagai wilayah Jawa, pengendalian pencemaran sungai, pembinaan pengelolaan sampah sektor hotel, restoran, dan kafe, rehabilitasi lahan kritis, serta penguatan pengawasan lingkungan terus dilakukan. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved