Ketua BEM UGM Diteror

Amnesty Internasional: Teror ke Ketua BEM UGM Bukan Kriminalitas Biasa

Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid, buka suara terkait teror yang menyasar Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto

|
Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/Instagram Usman Hamid
Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid. 

Ringkasan Berita:
  • Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid, buka suara terkait teror yang berlangsung secara masif dan menyasar Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.
  • Menurutnya, rangkaian ancaman tersebut bukan kriminalitas biasa, melainkan serangan sistematis yang bertujuan membungkam kritik.
  • Pada akhir pekan lalu dirinya bertemu langsung dengan Tiyo dan sejumlah mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid, buka suara terkait teror yang berlangsung secara masif dan menyasar Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.

Ia menilai rangkaian ancaman tersebut bukan kriminalitas biasa, melainkan serangan sistematis yang bertujuan membungkam kritik.

Usman mengungkapkan, pada akhir pekan lalu dirinya bertemu langsung dengan Tiyo dan sejumlah mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta.

”Sabtu lalu saya di Jogja bertemu para mahasiswa UGM dan mengangkat kasus Tiyo saat mengisi seminar dan musik perayaan Dies Natalies FH UGM,” ujarnya saat dihubungi Tribun Jogja, Senin (16/2/2026).

Pelanggaran serius

Menurutnya, teror yang melanda Ketua BEM UGM tersebut sudah masuk kategori pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia, terutama hak atas rasa aman dan kebebasan berekspresi.

“Teror yang melanda Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto ini sudah serangan sistematis dan pelanggaran serius terhadap HAM, terutama hak atas rasa aman dan kebebasan berekspresi,” tegasnya.

Ia mengatakan, isu tersebut turut diangkat dalam diskusi publik di FH UGM pekan lalu.

Selain itu, ia juga menyampaikan pesan serupa saat tampil bersama grup musiknya.

“Ini saya angkat saat memberikan materi dalam diskusi publik di FH UGM dan juga saat saya Dkk Usman And The Blackstones membawakan lagu-lagu kritik sosial dalam acara perayaan Dies Natalies FH UGM,” jelasnya.

Usman menilai, ancaman terhadap Tiyo merupakan reaksi atas kritik yang disampaikan kepada Presiden terkait insiden seorang murid sekolah dasar di NTT yang bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis.

“Serangan ancaman ini adalah reaksi atas kritik Tiyo kepada presiden atas insiden murid SD bunuh diri di NTT setelah tidak mampu beli alat tulis,” ujarnya.

Kritik berujung teror 

Ia memaparkan, setelah menyampaikan kritik tersebut, Tiyo menerima berbagai bentuk intimidasi secara beruntun, mulai dari ancaman penculikan, stigmatisasi sebagai “agen asing”, penguntitan, hingga teror yang menyasar keluarganya.

“Lalu Tiyo berturut-turut menerima ancaman penculikan, stigmatisasi ‘agen asing’, penguntitan, bahkan hingga teror yang juga menyasar ke ibunya. Ini keterlaluan dan polisi harus segera mengambil tindakan proaktif mencari pelakunya,” tegasnya.

Usman juga menyinggung bahwa Tiyo sebelumnya pernah mengalami ancaman setelah terlibat dalam aksi protes menolak Revisi UU TNI pada Maret tahun lalu. Ia melihat adanya pola berulang.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved