Ketua BEM UGM Diteror

Amnesty Internasional: Teror ke Ketua BEM UGM Bukan Kriminalitas Biasa

Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid, buka suara terkait teror yang menyasar Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto

|
Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/Instagram Usman Hamid
Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid. 

Terkait hal itu, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta turut bersuara atas intimidasi berupa teror terhadap Tiyo dan sang ibu.

Kritik adalah hal umum

Direktur LBH Yogyakarta, Julian Duwi Prasetia menyebut, apa yang dilakukan Tiyo merupakan bentuk ekspresi dan bentuk kritik terhadap kebijakan negara yang sebenarnya merupakan hal umum

Menurutnya, negara seharusnya memberikan perlindungan kepada Tiyo maupun keluarganya, karena itu sudah menjadi bagian dari kewajiban negara.

"Sehingga negara harus aktif mencari siapa yang melakukan intimidasi, serta memberikan perlindungan serta rasa aman kepada keluarga Tiyo," tegas Julian saat dihubungi, Senin (16/2/2026).

Julian juga menanggapi isi teror terhadap Tiyo yang arahnya nyaris menjurus pada upaya pencemaran nama baik.

"Sepanjang tuduhan itu tidak benar Tiyo berhak mendapatkan perlindungan hukum, termasuk punya hak untuk melapor," ungkapnya.

Dia menegaskan, LBH Yogyakarta akan terus menyuarakan penolakan upaya-upaya pembungkaman yang dilakukan pemerintah.

"Kami akan turut menyuarakan jika yang diserang adalah kebebasan ekspresi dan berpendapat," tegas Julian.

Awal teror terhadap Tiyo 

Sebagai informasi, Tiyo mendapat teror melalui aplikasi WhatsApp (WA) dari nomor asing. 

Pesan tersebut terus-menerus masuk, berisi: “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr” “Banci” “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”. 

Pesan itu masuk dari nomor yang sama, namun dikirim dalam waktu yang berbeda-beda. 

Pertama kali, teror itu diterima Tiyo pada Senin (9/2). Ada sekitar enam nomor asing yang terus menghubunginya, tetapi tidak ditanggapi.

Tidak hanya teror pesan, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu juga dikuntit oleh dua orang tidak dikenal dan difoto dari kejauhan. 

Sayangnya, dua sosok bertubuh tegap itu hilang ketika dikejar.

Teror itu diterima setelah BEM UGM mengirimkan surat ke Nations Children’s Fund (UNICEF), Jumat (6/2/2026). 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved