Inspiring
Panggilan Jiwa Manusia Jawa Modern: Membaca Masa Lalu, Merawat Masa Depan
Selembar naskah kuno beraksara Jawa mungkin tampak seperti peninggalan usang yang bisu di dunia modern yang serba instan
Penulis: Santo Ari | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- Naskah kuno beraksara Jawa mungkin tampak seperti peninggalan usang yang bisu di tengah riuh rendah dunia modern yang serba instan dan bergegas.
- Bagi Galih Adi Utama, lembaran-lembaran berdebu itu justru menyimpan kompas esensial yang mulai hilang dari genggaman masyarakat modern yakni identitas dan ketenangan batin.
- Staf pengajar di Prodi Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma sekaligus seorang pemerhati naskah Jawa, Galih melihat adanya fenomena mengkhawatirkan.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Selembar naskah kuno beraksara Jawa mungkin tampak seperti peninggalan usang yang bisu di tengah riuh rendah dunia modern yang serba instan dan bergegas.
Namun, bagi Galih Adi Utama, lembaran-lembaran berdebu itu justru menyimpan kompas esensial yang mulai hilang dari genggaman masyarakat modern yakni identitas dan ketenangan batin.
Sebagai staf pengajar di Prodi Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma sekaligus seorang pemerhati naskah Jawa, Galih melihat adanya fenomena mengkhawatirkan di mana perlahan-lahan orang Jawa mulai merasa asing di tanahnya sendiri.
Ironisnya, kerenggangan ini berakar dari ketidakmampuan kita dalam mengenali warisan literasi masa lalu.
"Orang Jawa dikatakan mulai tidak mengenali kebudayaannya sendiri, dikarenakan mungkin salah satu faktornya adalah mulai asing dengan peninggalan-peninggalan berupa karya sastra yang dihasilkan oleh para pujangga di periode yang lampau," ujar Galih penuh keprihatinan.
Menurutnya, salah satu pembatas terbesar saat ini adalah ketidakmampuan generasi muda maupun masyarakat secara umum dalam membaca dan memahami aksara Jawa.
Padahal, di dalam guratan-guratan aksara tersebut, tersimpan sejarah purba, falsafah hidup, serta piwulang (pendidikan moral) yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu untuk membangun kehidupan yang seimbang.
Ketika meneliti lembaran manuskrip lama seperti Babad Tanah Jawi, Galih menemukan sebuah konsep relevan yang sangat dibutuhkan oleh manusia modern saat ini, yaitu sikap asketik.
Konsep ini mengajarkan bagaimana manusia merefleksikan setiap peristiwa kehidupan dengan cara menenangkan diri dan mencari makna terdalam di balik setiap kejadian.
"Kebiasaan inilah yang saya kira mulai berkurang di kehidupan masyarakat kita di zaman sekarang, yang dapat kita buktikan melalui sikap arogansi yang tiba-tiba muncul dan tanpa adanya pertimbangan yang dalam," jelasnya.
Keharmonisan fisik dan mental
Nenek moyang Jawa dahulu telah memformulasikan gagasan dasar mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawi sehari-hari dan ketenangan batin. Mereka tidak mendewakan ambisi yang menggebu-gebu, melainkan keharmonisan fisik dan mental.
Menariknya, proses belajar membaca aksara Jawa itu sendiri bisa menjadi terapi penenang di tengah derasnya arus informasi masa kini.
Membaca aksara Jawa goresan tangan (manuskrip kuno) membutuhkan ketelitian, ketekunan, dan kerja rasa yang tinggi karena setiap penulis memiliki karakter uniknya masing-masing.
"Membaca dan menulis aksara Jawa ini menjadi media untuk kembali menenangkan diri, untuk mencapai keseimbangan itu tadi, satu sarana untuk mengembalikan naluri manusia Jawa ke sejatinya," ungkap Galih.
| Soal Teror Api Misteris di Rumah Agus Seyegan, Dosen UGM Ungkap Pemicunya |
|
|---|
| Prediksi Formasi PSG vs Arsenal di Final Liga Champions Malam Ini |
|
|---|
| Lakukan Investigasi di Seyegan, Tim UPN “Veteran” Temukan Indikasi Sumber Gas Metana |
|
|---|
| Cek Tiket dan Jadwal KRL Jogja Solo Hari Ini Sabtu 30 Mei 2026 |
|
|---|
| Cek Tiket dan Jadwal KA Prameks Hari Ini Sabtu 30 Mei 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Galih-Adi-Utama-staf-pengajar-di-Prodi-Sejarah-Fakultas-Sastra-Universitas-Sanata-Dharma.jpg)