Misteri Api di Rumah Warga Sleman
Teror Api di Seyegan Merembet, Kerudung Tetangga Tiba-tiba Terbakar
Hingga Jumat (5/6/2026) atau tepat 14 hari setelah kejadian kebakaran pertama pada 23 Mei lalu, sudah ada 105 titik api yang muncul.
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Muhammad Fatoni
"Sekarang kebakaran di sini sudah memasuki hari ke 14. Totalnya sudah 100 kejadian," kata Fia.
Meski sudah muncul dugaan awal penyebab–hasil penelitian sejumlah pihak–keluarga Agus belum benar-benar tenang.
Ancaman titik terbakar masih menghantui, lantaran bisa muncul kapan saja, di mana saja.
Siaga 24 jam adalah cara satu-satunya untuk berjaga.
Setiap sekian jam sekali, mereka berkeliling untuk mengecek apakah ada api yang muncul.
Air, handuk basah, hingga Alat Pemadam Api Ringan (APAR) adalah senjata utama upaya pemadaman api.
Hari-hari melelahkan di Seyegan ini ternyata masih berlangsung. Entah sampai kapan.
Pada Kamis (4/6), setidaknya muncul tujuh titik api.
Sebelum tengah malam, tepatnya pukul 22.44, api membakar kardus telur di ruang tengah rumah Agus.
Memang, sejak Kamis dini hari, api muncul secara acak, baik waktu dan tempatnya. Mulai celana terbakar di kamar depan pukul 00.12.
Buku di kamar belakang terbakar pukul 01.43.
Kasur yang diletakkan di ruang depan juga membara pada pukul 01.53.
Sempat mereda lebih kurang 10 jam, titik api kembali muncul Kamis siang pukul 12.27.
Ada bara pada kardus di belakang ruko utara rumah Agus.
Tempat ini dijadikan ruang mengungsi sementara oleh keluarga terdampak.
Kurang dari sejam kemudian, sekitar pukul 13.10, gulungan kabel di bagian belakang rumah Agus pun terbakar.
Saat sore tiba, terpantau titik api di halaman kontrakan utara ruko.
Baca juga: Fenomena Teror Api Seyegan: Tim UGM, BPPTKG, UPN, dan BRIN Ungkap Akumulasi Gas
Kerugian
Mutfiana mengungkapkan, kerugian materiil akibat kerusakan fisik bangunan maupun barang-barang yang terbakar saat ini diperkirakan menembus angka Rp70 juta.
Sebab, peristiwa ini memaksa keluarga membongkar keramik, saluran paralon dan septic tank yang semula dicurigai sebagai biang kerok kemunculan gas metana.
Dinding rumah dan perabotan juga hangus terbakar.
Nilai kerugian tersebut belum termasuk akibat berhentinya roda perputaran usaha pemotongan ayam.
Kerugian juga menghitung pengisian ulang APAR.
Semula penggantian alat pemadam api ini menggunakan biaya pribadi, sebelum akhirnya ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten Sleman.
Fia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Sleman telah menyarankan agar lokasi usaha direlokasi sementara demi mempermudah proses penelitian ilmiah oleh tim ahli.
Fia mengaku mau direlokasi asalkan tidak jauh dari rumah, misalnya di ruko sebelah.
Jika direlokasi ke sana, ia berencana mendirikan tenda usaha darurat di dekat ruko agar tidak kehilangan pelanggan yang sudah dibangun dari nol.
Kemunculan titik api secara tiba-tiba ini sudah sangat meresahkan.
Dampaknya tidak hanya materi, tetapi juga menguras kondisi fisik dan psikis penghuni rumah.
Penghuni orang yang tinggal di rumah tersebut terpaksa harus berjaga bergantian selama 24 jam penuh bersama warga dan para relawan.
"Paling lama kami bisa tidur hanya 3 jam, itu pun bergantian. Tensi darah naik, kurang tidur, kurang makan, dan asupan gizi jadi tidak teratur," ungkapnya.
Meski demikian, pihak keluarga mengaku sedikit lega karena bantuan dari warga sekitar, keluarga, Pemerintah dan peralatan APAR dari Damkar mulai mengalir.
Keluarga korban juga mengaku mendukung jika rumahnya dijadikan lokasi penelitian lebih lanjut oleh tim ahli lintas sektor agar penyebab pasti kebakaran berulang ini segera terungkap secara pasti.
Kebutuhan mendesak yang diharapkan keluarga Agus Yani saat ini adalah alat penghalau gas.
"Yang paling kami butuhkan saat ini adalah blower atau kipas angin besar untuk menghalau gas," ujarnya. (rif/hdy)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Cerita-Laila-Mulai-Takut-dan-Khawatir-Baru-Tahu-Teror-Api-di-Seyegan-Merembet-ke-Kontrakannya.jpg)