Misteri Api di Rumah Warga Sleman

Fenomena Teror Api Seyegan: Tim UGM, BPPTKG, UPN, dan BRIN Ungkap Akumulasi Gas

Fenomena kebakaran misterius di rumah Agusyani, Kasuran, Seyegan, Sleman, diteliti tim lintas sektor dari UGM, UPN, BPPTKG, BRIN, dan Dinas PUP ESDM

Tayang:
Penulis: IWE | Editor: Iwan Al Khasni
Tribun Jogja/Hendy Kurniawan
MENYALA - Titik api yang membakar tumpukan kayu di halaman belakang rumah Agus Yani di Kasuran, Seyegan, Sleman, Rabu (3/6/2026) malam. 

 

Ringkasan Berita:Fenomena kebakaran misterius di rumah Agusyani, Kasuran, Seyegan, Sleman, diteliti tim lintas sektor dari UGM, UPN, BPPTKG, BRIN, dan Dinas PUP ESDM DIY. Hasil sementara menunjukkan akumulasi gas hidrogen (H2) konsentrasi tinggi sebagai pemicu utama, bukan faktor mistis.

 

Sleman Yogyakarta -- Fenomena kebakaran berulang di rumah Agusyani, Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman, akhirnya diteliti serius oleh tim lintas sektor. Kamis (4/6/2026) sore, para ahli dari UGM, UPN, BPPTKG, BRIN, serta Dinas PUP ESDM Pemda DIY berkumpul di Kantor Kapanewon Seyegan

Pertemuan ini difasilitasi Pemkab Sleman untuk menyinkronkan data lapangan dan menentukan langkah mitigasi darurat.

Temuan UGM: Gas Hidrogen

Dosen Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Dr. Sarju Winardi, memaparkan hasil observasi tim PKPE Fakultas Teknik UGM

Melalui detektor gas dan kamera thermal, tim mendeteksi lonjakan kadar hidrogen di dalam rumah hingga 40 ppm, bahkan mencapai 2.500 ppm di saluran pipa air. 

Normalnya, kadar hidrogen di atmosfer hanya 5 ppm.

Hipotesis UGM menyebut gas hidrogen terbentuk dari proses dark fermentation limbah pemotongan ayam di belakang rumah. Gas ini berasosiasi dengan gas fosfin (PH3) yang sangat reaktif, sehingga mudah menyala pada suhu kamar.

Rekomendasi UGM

Tim UGM mengeluarkan empat rekomendasi mitigasi:

  • Membuka sirkulasi udara selebar-lebarnya agar gas hidrogen keluar.
  • Menggunakan blower untuk menghalau akumulasi gas bawah tanah.
  • Mengeluarkan perabot mudah terbakar dari rumah.
  • Pengeboran tanah dan injeksi air kapur untuk menekan aktivitas bakteri Clostridium.

Temuan BPPTKG: Gas Metana dan Listrik Statis

Ketua Tim Mitigasi Bencana Gunung Merapi BPPTKG, Andika Bayu Aji, menyebut kadar metana di rumah masih rendah, 0–1 persen, dengan titik tertinggi 4 persen di dekat pohon bambu. 

Angka ini belum mencapai ambang batas ledakan metana (5–15 persen).

BPPTKG menduga pemantik api bukan suhu panas lingkungan, melainkan listrik statis. Hal ini diperkuat laporan perangkat elektronik rumah yang sering rusak mendadak. 

Selain itu, gas fosfin yang hanya membutuhkan suhu 38°C untuk terbakar sendiri bisa memicu hidrogen di sekitarnya.

Analisis UPN: Kombinasi Gas Alam dan Buatan

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved