Misteri Api di Rumah Warga Sleman

Teror Api di Rumah Warga Seyegan, Korban Ungkap Kerugian yang Harus Ditanggung

Selain kerusakan akibat terbakar oleh api yang muncul acak, kerugian juga terjadi karena peristiwa ini melumpuhkan usaha

Tayang:
Penulis: OSE | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
Foto dok. Pemilik rumah di Seyegan Sleman mengeluarkan barang-barang dari rumah di mana api misterius kerap muncul secara akak. 

TRIBUNJOGJA.COM - Fenomena munculnya api misterius di rumah Agusyani, Dusun Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman, sejak dua pekan lalu, telah mengakibatkan kerugian bagi keluarga tersebut.

Selain kerusakan akibat terbakar oleh api yang muncul acak, kerugian juga terjadi karena peristiwa ini melumpuhkan usaha pemotongan ayam milik keluarga korban.

Keluarga Agusyani juga dipaksa untuk tetap siaga sepanjang hari karena api muncul di waktu dan titik lokasi yang tidak tentu di rumah dan sekitarnya. 

Kerugian materiil

Anak Agusyani, Mutfiana mengungkapkan, kerugian materiil akibat kerusakan fisik bangunan maupun barang-barang yang terbakar saat ini diperkirakan menembus angka Rp 70an juta.

Sebab, dalam peristiwa ini memaksa keluarga membongkar keramik, saluran paralon dan septitank yang semula dicurigai sebagai biang kerok kemunculan gas metana.

Dinding rumah dan perabotan juga hangus terbakar. Nilai kerugian tersebut belum termasuk akibat berhentinya roda perputaran usaha.

Belum termasuk penurunan omset usaha

"Belum (termasuk penurunan omset usaha). (Jumlah ini) karena kemarin dibongkar septitanknya, tembok-temboknya, keramiknya dan lain sebagainya," kata dia.

Kerugian juga menghitung pengisian ulang Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Semula penggantian alat pemadam api ini menggunakan biaya pribadi, sebelum akhirnya ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten Sleman.

Fia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Sleman telah menyarankan agar lokasi usaha direlokasi sementara demi mempermudah proses penelitian ilmiah oleh tim ahli. 

Pengosongan rumah ini dinilai penting mengingat adanya dugaan kandungan gas hidrogen di area tersebut. Fia mengaku mau direlokasi asalkan tidak jauh dari rumah. Misalnya direlokasi di ruko sebelah rumah.

Jika direlokasi di sana, ia berencana mendirikan tenda usaha darurat di dekat ruko agar tidak kehilangan pelanggan yang sudah dibangun dari nol.

Butuh blower

Sedangkan terkait kebutuhan mendesak yang diharapkan keluarga korban saat ini adalah alat penghalau gas. 

"Yang paling kami butuhkan saat ini adalah blower atau kipas angin besar untuk menghalau gas," ujarnya. 

Kemunculan titik api secara tiba-tiba di rumat Agusyani ini sudah sangat meresahkan. Dampaknya tidak hanya materi, tetapi juga menguras kondisi fisik dan psikis penghuni rumah.

Menguras psikis, tidur paling lama 3 jam

Penghuni orang yang tinggal di rumah tersebut terpaksa harus berjaga bergantian selama 24 jam penuh bersama warga dan para relawan. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved