Misteri Api di Rumah Warga Sleman

Teror Api di Seyegan Merembet, Kerudung Tetangga Tiba-tiba Terbakar

Hingga Jumat (5/6/2026) atau tepat 14 hari setelah kejadian kebakaran pertama pada 23 Mei lalu, sudah ada 105 titik api yang muncul.

Tayang:
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
TEROR API: Laila Putri Rahma Dewi, tetangga sebelah utara rumah Agusyani, menunjukkan kerudung hitam dengan sisa bagian yang terbakar, Jum'at (5/6/2026). 

TRIBUNJOGJA.COM, TRIBUN - Fenomena kemunculan titik api di rumah Agus Yani, warga Kasuran, Seyegan, Sleman, masih terjadi berulang kali. 

Bahkan, titik api kini mulai merembet dan muncul beberapa kali di rumah tetangganya, membakar sejumlah pakaian.

Selama dua pekan terakhir, Laila Putri Rahma Dewi, tetangga sebelah utara rumah Agus Yani, hanya bisa memandang cemas ke arah selatan. 

Dari balik rumah kontrakannya di Padukuhan Kasuran, ia menyaksikan tetangganya itu setiap malam harus siaga menghadapi api yang muncul secara tiba-tiba dan acak. 

Perempuan asal Magelang itu, semula tidak percaya bahwa titik api yang belum diketahui penyebab pastinya akan benar-benar merembet hingga ke kediamannya.

Kini, tepat dua pekan setelah fenomena itu terjadi, titik api benar-benar muncul di belakang rumah kontrakan Laila. 

Titik api telah membakar dua barang yakni handuk dan kerudung warna hitam. 

Laila bercerita, Kamis siang (4/6/2026) kemarin, kerudung hitam kesayangannya yang dijemur di sisi selatan rumah mendadak hangus sebagian. 

Ia baru menyadarinya saat hendak pergi belanja. 

"Kerudung (terbakar) kemarin siang. Pasnya jam berapa, saya kurang tahu. Saya tahu pas mau saya pakai buat belanja, loh ternyata sudah begini ," kata Laila, pada Jumat (5/6/2026), sambil menunjukkan tanda bekas terbakar di kerudungnya. 

Baca juga: Tepat Dua Pekan, 100 Titik Teror Api Muncul di Rumah Warga Seyegan Sleman

Tak Percaya

Kerudung hitam yang ditunjukkan Laila tampak jelas terdapat sisa bekas terbakar api. 

Api hanya membakar sebagian bahan sehingga bentuk kerudung masih bisa dikenali. 

Api sebetulnya sudah mulai muncul sejak beberapa hari lalu, tepatnya Senin (1/6/2026) sore. 

Sebuah tumpukan kayu yang diletakkan jauh di belakang rumah tiba-tiba terbakar. 

Saat itu, Laila dan suami kebetulan tidak berada di rumah. 

Ia diberitahu kemunculan api dari Mutviana, putri Agus Yani, namun sempat tak dihiraukannya, mengira itu hanya kebetulan belaka. 

Rasa tidak percaya soal api yang tiba-tiba muncul masih membentengi logikanya. 

Namun, kejadian terhadap kerudungnya, meruntuhkan semua penyangkalannya.

“Kemarin menjemur di sana (seberang selatan rumah), kerudung  hitam ini terbakar," katanya. 

Rumah kontrakan Laila dengan rumah Agus Yani hanya berjarak puluhan meter.

Lokasinya tepat berada di sebelah utara ruko yang kini dimanfaatkan keluarga Agusyani untuk tempat pengungsian sementara. 

Sejak kemarin, soal 'teror' kemunculan api, Laila mengaku sudah sempat diingatkan agar tidak menggantung atau menyampirkan barang atau pakaian yang mudah terbakar. 

Ia sudah mencoba mematuhi itu, tapi, pada Kamis (4/6/2026), ia membiarkan handuk basah menggantung di tempat jamuran baju supaya kering. 

Jumat dini hari, handuk tersebut terbakar. 

"Biasanya handuk basah setelah mandi saya taruh sini biar kering. Posisinya tergantung. Kemarin sore sempat dibilangin jika ada barang tergantung untuk disingkirkan. Tapi, saya belum percaya kalau api sampai sini. Semalam baru (kejadian)," ujarnya.

Laila mengetahui jika handuknya terbakar Jum'at (5/6/2026) pagi. 

Setiap pagi hari, ia beraktivitas membersihkan belakang rumah kontrakannya. 

Ketika melihat ke arah tempat jemuran, ia mendapati handuk basah yang semula dijemur sudah tidak ada. 

Beberapa meter, sebelah selatan dari tempat jemuran itu, ia melihat abu hitam sisa barang terbakar. 

"Saya pastikan lagi ke dalam rumah nyari handuk, kok enggak ada. Baru dibilangin suami, suami ke situ (ke rumah Agus Yani) baru tahu jika handuk semalam terbakar," kata dia.  

TITIK API: Laila Putri Rahma Dewi, tetangga sebelah utara rumah Agusyani menunjukkan lokasi di mana handuk diletakkan semampir di tempat jemuran sebelum akhirnya terbakar, jumat (5/6) dini hari.
TITIK API: Laila Putri Rahma Dewi, tetangga sebelah utara rumah Agusyani menunjukkan lokasi di mana handuk diletakkan semampir di tempat jemuran sebelum akhirnya terbakar, jumat (5/6) dini hari. (Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin)

   

Mulai Khawatir

Ia mengaku kini mulai merasakan takut dan khawatir atas kejadian ini, bahkan mulai mengemas barang-barang di dalam rumah. 

Sebab Laila dan suami, tinggal di rumah tersebut hanya mengontrak satu tahun, kini memasuki bulan ke-11. 

Jika kemunculan api dianggap membahayakan, ia dan suami sudah bersiap untuk berpindah tempat tinggal. 

"Takut, khawatir mesti ada ya. Tapi (ke depan) kita lebih hati-hati, kalau malam biasanya berjaga. Tadi malam jam 12 ketiduran. Jadi (nanti) lebih hati-hati lagi," katanya. 

Jumat dini hari (5/6), jarum jam baru menunjukkan pukul 01.22 WIB. 

Mutfiana, anak dari Agusyani, sedang berjalan ke samping rumah tetangganya, Laila, untuk mengecek kucing peliharaannya. 

Alih-alih mendengar suara meong, matanya justru menangkap kilatan cahaya merah yang menari-nari di kegelapan pekarangan belakang rumah Laila.

"Saya mau mengecek kucing di samping rumah, tahu-tahu ada api. Posisi api belakang rumah membakar handuk," kata Mutfiana. 

Melihat handuk terbakar, ia memanggil bantuan. 

Personel BPBD yang mengetahui ada api dari rumah tetangga Agus Yani, langsung bergegas mendatangi lokasi. 

Handuk yang diselimuti api lalu dibawa ke tempat aman dan dipadamkan dengan cara diinjak. 

Api ke-100

Terbakarnya handuk Laila bukan sekadar insiden kecil biasa. Itu adalah titik api ke-100 sejak awal mula kemunculan api Jum'at (23/5/2026) lalu. 

Tepat 14 hari sejak api misterius pertama melanda Kasuran, sudah 105 kali kejadian kebakaran hingga Jumat (5/6/2026) malam. 

Api menyala tanpa korek, tanpa korsleting, dan membakar kain, sofa, buku, kardus, tikar, gulungan kabel, dan kini mulai merembet ke tetangga sebelah ruko.

"Sekarang kebakaran di sini sudah memasuki hari ke 14. Totalnya sudah 100 kejadian," kata Fia.

Meski sudah muncul dugaan awal penyebab–hasil penelitian sejumlah pihak–keluarga Agus belum benar-benar tenang. 

Ancaman titik terbakar masih menghantui, lantaran bisa muncul kapan saja, di mana saja. 

Siaga 24 jam adalah cara satu-satunya untuk berjaga. 

Setiap sekian jam sekali, mereka berkeliling untuk mengecek apakah ada api yang muncul. 

Air, handuk basah, hingga Alat Pemadam Api Ringan (APAR) adalah senjata utama upaya pemadaman api. 

Hari-hari melelahkan di Seyegan ini ternyata masih berlangsung. Entah sampai kapan. 

Pada Kamis (4/6), setidaknya muncul tujuh titik api. 

Sebelum tengah malam, tepatnya pukul 22.44, api membakar kardus telur di ruang tengah rumah Agus. 

Memang, sejak Kamis dini hari, api muncul secara acak, baik waktu dan tempatnya. Mulai celana terbakar di kamar depan pukul 00.12. 

Buku di kamar belakang terbakar pukul 01.43. 

Kasur yang diletakkan di ruang depan juga membara pada pukul 01.53.

Sempat mereda lebih kurang 10 jam, titik api kembali muncul Kamis siang pukul 12.27. 

Ada bara pada kardus di belakang ruko utara rumah Agus. 

Tempat ini dijadikan ruang mengungsi sementara oleh keluarga terdampak. 

Kurang dari sejam kemudian, sekitar pukul 13.10, gulungan kabel di bagian belakang rumah Agus pun terbakar. 

Saat sore tiba, terpantau titik api di halaman kontrakan utara ruko. 

Baca juga: Fenomena Teror Api Seyegan: Tim UGM, BPPTKG, UPN, dan BRIN Ungkap Akumulasi Gas

Kerugian

Mutfiana mengungkapkan, kerugian materiil akibat kerusakan fisik bangunan maupun barang-barang yang terbakar saat ini diperkirakan menembus angka Rp70 juta. 

Sebab, peristiwa ini memaksa keluarga membongkar keramik, saluran paralon dan septic tank yang semula dicurigai sebagai biang kerok kemunculan gas metana. 

Dinding rumah dan perabotan juga hangus terbakar. 

Nilai kerugian tersebut belum termasuk akibat berhentinya roda perputaran usaha pemotongan ayam.

Kerugian juga menghitung pengisian ulang APAR. 

Semula penggantian alat pemadam api ini menggunakan biaya pribadi, sebelum akhirnya ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten Sleman

Fia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Sleman telah menyarankan agar lokasi usaha direlokasi sementara demi mempermudah proses penelitian ilmiah oleh tim ahli.  

Fia mengaku mau direlokasi asalkan tidak jauh dari rumah, misalnya di ruko sebelah.

Jika direlokasi ke sana, ia berencana mendirikan tenda usaha darurat di dekat ruko agar tidak kehilangan pelanggan yang sudah dibangun dari nol. 

Kemunculan titik api secara tiba-tiba ini sudah sangat meresahkan. 

Dampaknya tidak hanya materi, tetapi juga menguras kondisi fisik dan psikis penghuni rumah. 

Penghuni orang yang tinggal di rumah tersebut terpaksa harus berjaga bergantian selama 24 jam penuh bersama warga dan para relawan. 

"Paling lama kami bisa tidur hanya 3 jam, itu pun bergantian. Tensi darah naik, kurang tidur, kurang makan, dan asupan gizi jadi tidak teratur," ungkapnya.

Meski demikian, pihak keluarga mengaku sedikit lega karena bantuan dari warga sekitar, keluarga, Pemerintah dan peralatan APAR dari Damkar mulai mengalir. 

Keluarga korban juga mengaku mendukung jika rumahnya dijadikan lokasi penelitian lebih lanjut oleh tim ahli lintas sektor agar penyebab pasti kebakaran berulang ini segera terungkap secara pasti.

Kebutuhan mendesak yang diharapkan keluarga Agus Yani saat ini adalah alat penghalau gas.

"Yang paling kami butuhkan saat ini adalah blower atau kipas angin besar untuk menghalau gas," ujarnya. (rif/hdy)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved