Misteri Api di Rumah Warga Sleman

Pandangan Para Ahli soal Penyebab 'Teror' Api di Rumah Warga Seyegan: Temuan Tim UGM, UPN, BPPTKG

Tim UGM, UPN, BPPTKG, BRIN, PUP ESDM DIY menyampaikan hasil observasi soal penyebab fenomena teror api atau kebakaran berulang di Seyegan

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
HASIL OBSERVASI AHLI: Pemerintah Kabupaten Sleman menggandeng tim ahli lintas sektoral dari UGM, UPN, BPPTKG, BRIN, hingga Dinas PUP ESDM Pemda DIY untuk mengemukakan hasil sementara dari observasi terkait penyebab fenomena kebakaran berulang di kediaman Agusyani, Seyegan, yang telah meresahkan hampir dua pekan terakhir. Pertemuan para ahli berlansung Kamis (4/6) di kantor Kapanewon Seyegan. Langkah ini sebagai dasar mitigasi yang akan dilakukan pemerintah ke depan. 

"Empat rekomendasi ini sangat terbuka untuk masukan dan diskusi," ujarnya. 

BPPTKG: investigasi pemantik api, listrik statis dan gas fosfin    

Tim ahli dari BPPTKG juga turut menerjunkan tim untuk menguji keabsahan hipotesis akademisi terkait teror api misterius di Seyegan, Sleman. Menggunakan sensor keselamatan kerja (safety tool), BPPTKG memperluas investigasi pada aspek pemantik api atau segitiga api yang memicu terbakarnya akumulasi gas bawah tanah di lokasi tersebut.

Ketua Tim Mitigasi Bencana Gunung Merapi BPPTKG, Andika Bayu Aji mengatakan, berdasarkan hasil pengukuran lapangan, BPPTKG mencatat kadar gas metana (CH4) di dalam rumah masih berada di angka 0 hingga 1 persen, dengan titik tertinggi sebesar 4 persen di dekat area pohon bambu luar rumah. Angka ini dinilai belum memenuhi syarat ambang batas ledakan metana yang berada di kisaran 5 hingga 15 persen.

Untuk memastikan kadar gas hidrogen (H2) yang memiliki rentang ambang batas terbakar sangat lebar yakni 4 hingga 78 persen, BPPTKG telah mengambil sampel gas menggunakan tabung khusus untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium. Namun, ia menekankan bahwa gas hidrogen tidak dapat menyala sendiri begitu saja karena membutuhkan suhu auto-ignition di atas 500°C, sedangkan pemantauan kamera thermal udara lewat drone menunjukkan suhu lingkungan di luar dan di dalam rumah tergolong normal, yakni hanya berkisar antara 32°C hingga 37°C.

"Jadi kemungkinan pemantiknya bukan karena suhu panas lingkungan, melainkan bisa jadi karena listrik statis," kata dia. 

Dalam kasus ini, BPPTKG mengeluarkan dua saran penyelidikan untuk mengungkap faktor pemicu api. Pertama, pengecekan terhadap potensi paparan listrik statis yang kuat di sekitar lokasi. Indikasi ini diperkuat oleh laporan pemilik rumah mengenai perangkat elektronik seperti CCTV, TV, hingga komputer yang kerap mendadak rusak, yang mana lonjakan listrik statis terbukti mampu memicu pembakaran spontan saat bersentuhan dengan hidrogen. 

"Kedua, menindaklanjuti teori tentang gas lain yaitu (keberaadaan) gas fosfin yang hanya membutuhkan suhu 38°C untuk terbakar sendiri tanpa api sehingga bisa memicu (gas) hidrogen di sekitarnya," jelas dia. 

Tim UPN: pergerakan gas alam mencari jalan keluar 

Di sisi lain, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Pengda Jawa Timur sekaligus Kandidat Doktor Ilmu Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Handoko Teguh Wibowo, menduga rentetan kebakaran misterius di Seyegan, Sleman, merupakan kombinasi pembentukan gas dari faktor natural (alami) dan artificial (buatan).

Ia bercerita, berdasarkan pengalamannya selama hampir sepuluh tahun menangani karakteristik gas dangkal bertekanan rendah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, fenomena ini murni akibat pergerakan gas alam yang mencari jalan keluar ke permukaan bumi dan bukan fenomena supranatural.

Handoko menjelaskan bahwa gas metana (CH4) dan gas hidrogen (H2) di lokasi tersebut keluar secara bersamaan dari bawah tanah, dibuktikan dengan temuan gelembung gas di bawah Sungai Nepen dekat pemukiman warga. Sifat gas hidrogen yang sangat ringan membuatnya bergerak lebih cepat dan bertindak sebagai penjelajah media berpori. 

Uniknya, hidrogen memiliki reologi khas yang sangat sensitif, gas ini tidak membutuhkan pemantik tinggi dan dapat tersulut secara spontan hanya oleh daya listrik statis dari tubuh manusia atau perangkat elektronik, selama kadar oksigen ruangan berada di rentang 4 hingga 72 persen.

"Di luar rentang itu, gas tidak akan menyala," imbuhnya. 

Rekomendasi tim UPN

Belajar dari pengalaman penanganan kasus semburan gas Lumpur Lapindo dan padamnya Api Abadi Mrapen, Handoko menawarkan dua langkah untuk menjinakkan "gas liar" di Seyegan agar aman bagi pemukiman warga. Yakni dengan pembangunan sumur reservoir dangkal dan kompresor.

Caranya berdasarkan pengalaman, dengan membuat beberapa titik sumur pantek pada kedalaman reservoir dangkal (sekitar 0 hingga 40 meter). Gas liar yang merembes di bawah rumah warga disedot menggunakan mesin kompresor untuk dikonsentrasikan ke dalam tangki penampungan khusus. 

"Jika kualitas kandungan metananya bagus, gas ini dapat dirilis untuk dialirkan ke kompor-kompor warga sebagai pengganti LPG. Langkah tanggap darurat saat ini adalah mengamankan area rumah yang terdampak agar gas liar ini bisa diperangkap dan dikonsentrasikan. Kalaupun tidak dimanfaatkan, gas tersebut bisa kita flare (bakar secara aman) ," ujarnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved