Misteri Api di Rumah Warga Sleman
Pandangan Para Ahli soal Penyebab 'Teror' Api di Rumah Warga Seyegan: Temuan Tim UGM, UPN, BPPTKG
Tim UGM, UPN, BPPTKG, BRIN, PUP ESDM DIY menyampaikan hasil observasi soal penyebab fenomena teror api atau kebakaran berulang di Seyegan
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
"Empat rekomendasi ini sangat terbuka untuk masukan dan diskusi," ujarnya.
BPPTKG: investigasi pemantik api, listrik statis dan gas fosfin
Tim ahli dari BPPTKG juga turut menerjunkan tim untuk menguji keabsahan hipotesis akademisi terkait teror api misterius di Seyegan, Sleman. Menggunakan sensor keselamatan kerja (safety tool), BPPTKG memperluas investigasi pada aspek pemantik api atau segitiga api yang memicu terbakarnya akumulasi gas bawah tanah di lokasi tersebut.
Ketua Tim Mitigasi Bencana Gunung Merapi BPPTKG, Andika Bayu Aji mengatakan, berdasarkan hasil pengukuran lapangan, BPPTKG mencatat kadar gas metana (CH4) di dalam rumah masih berada di angka 0 hingga 1 persen, dengan titik tertinggi sebesar 4 persen di dekat area pohon bambu luar rumah. Angka ini dinilai belum memenuhi syarat ambang batas ledakan metana yang berada di kisaran 5 hingga 15 persen.
Untuk memastikan kadar gas hidrogen (H2) yang memiliki rentang ambang batas terbakar sangat lebar yakni 4 hingga 78 persen, BPPTKG telah mengambil sampel gas menggunakan tabung khusus untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium. Namun, ia menekankan bahwa gas hidrogen tidak dapat menyala sendiri begitu saja karena membutuhkan suhu auto-ignition di atas 500°C, sedangkan pemantauan kamera thermal udara lewat drone menunjukkan suhu lingkungan di luar dan di dalam rumah tergolong normal, yakni hanya berkisar antara 32°C hingga 37°C.
"Jadi kemungkinan pemantiknya bukan karena suhu panas lingkungan, melainkan bisa jadi karena listrik statis," kata dia.
Dalam kasus ini, BPPTKG mengeluarkan dua saran penyelidikan untuk mengungkap faktor pemicu api. Pertama, pengecekan terhadap potensi paparan listrik statis yang kuat di sekitar lokasi. Indikasi ini diperkuat oleh laporan pemilik rumah mengenai perangkat elektronik seperti CCTV, TV, hingga komputer yang kerap mendadak rusak, yang mana lonjakan listrik statis terbukti mampu memicu pembakaran spontan saat bersentuhan dengan hidrogen.
"Kedua, menindaklanjuti teori tentang gas lain yaitu (keberaadaan) gas fosfin yang hanya membutuhkan suhu 38°C untuk terbakar sendiri tanpa api sehingga bisa memicu (gas) hidrogen di sekitarnya," jelas dia.
Tim UPN: pergerakan gas alam mencari jalan keluar
Di sisi lain, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Pengda Jawa Timur sekaligus Kandidat Doktor Ilmu Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Handoko Teguh Wibowo, menduga rentetan kebakaran misterius di Seyegan, Sleman, merupakan kombinasi pembentukan gas dari faktor natural (alami) dan artificial (buatan).
Ia bercerita, berdasarkan pengalamannya selama hampir sepuluh tahun menangani karakteristik gas dangkal bertekanan rendah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, fenomena ini murni akibat pergerakan gas alam yang mencari jalan keluar ke permukaan bumi dan bukan fenomena supranatural.
Handoko menjelaskan bahwa gas metana (CH4) dan gas hidrogen (H2) di lokasi tersebut keluar secara bersamaan dari bawah tanah, dibuktikan dengan temuan gelembung gas di bawah Sungai Nepen dekat pemukiman warga. Sifat gas hidrogen yang sangat ringan membuatnya bergerak lebih cepat dan bertindak sebagai penjelajah media berpori.
Uniknya, hidrogen memiliki reologi khas yang sangat sensitif, gas ini tidak membutuhkan pemantik tinggi dan dapat tersulut secara spontan hanya oleh daya listrik statis dari tubuh manusia atau perangkat elektronik, selama kadar oksigen ruangan berada di rentang 4 hingga 72 persen.
"Di luar rentang itu, gas tidak akan menyala," imbuhnya.
Rekomendasi tim UPN
Belajar dari pengalaman penanganan kasus semburan gas Lumpur Lapindo dan padamnya Api Abadi Mrapen, Handoko menawarkan dua langkah untuk menjinakkan "gas liar" di Seyegan agar aman bagi pemukiman warga. Yakni dengan pembangunan sumur reservoir dangkal dan kompresor.
Caranya berdasarkan pengalaman, dengan membuat beberapa titik sumur pantek pada kedalaman reservoir dangkal (sekitar 0 hingga 40 meter). Gas liar yang merembes di bawah rumah warga disedot menggunakan mesin kompresor untuk dikonsentrasikan ke dalam tangki penampungan khusus.
"Jika kualitas kandungan metananya bagus, gas ini dapat dirilis untuk dialirkan ke kompor-kompor warga sebagai pengganti LPG. Langkah tanggap darurat saat ini adalah mengamankan area rumah yang terdampak agar gas liar ini bisa diperangkap dan dikonsentrasikan. Kalaupun tidak dimanfaatkan, gas tersebut bisa kita flare (bakar secara aman) ," ujarnya.
Api
Misteri
Seyegan
Sleman
Geolog UGM
Pakar Geologi
UPNVY
BPPTKG
kebakaran
gas metana
Hidrogen
FOSFIN
listrik statis
| Dua Pekan Keluarga Agusyani Diteror Api, dan Lagi, Gulungan Kabel Terbakar |
|
|---|
| Selain Hidrogen, Tim PKPE UGM Sebut Kemungkinan Adanya Gas Fosfin di Rumah Agus Yani di Seyegan |
|
|---|
| Belum Berhenti, Dua Pekan Keluarga Agus Yani di Sleman 'Diteror' Api |
|
|---|
| Teror Api Rumah Seyegan Belum Berhenti, Tercatat 87 Kejadian Kebakaran |
|
|---|
| Bukan Mistis, Teror Api Rumah Seyegan Barasal dari Gas: Bupati Sleman Upayakan Langkah Penanganan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pandangan-Para-Ahli-soal-Penyebab-Teror-Api-di-Rumah-Warga-Seyegan-Temuan-Tim-UGM-UPN-BPPTKG.jpg)