Aktivitas Gunung Merapi Kamis 4 Juni 2026: Berikut Hasil Pengamatan BPPTKG Yogyakarta

Gunung Merapi teramati mengalami 19 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-10 mm dan lama gempa 42.78-177.29 detik, Kamis (4/6/2026)

Tayang:
Penulis: TON | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/magma.esdm.go.id
Aktivitas Gunung Merapi, Kamis (4/6/2026) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gunung Merapi teramati mengalami 19 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-10 mm dan lama gempa 42.78-177.29 detik.

Selain itu, tercatat pula 16 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 2-33 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 16.2-56.92 detik.

Serta 4 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 4-27 mm, dan lama gempa 7.82-10.13 detik.

Dan 6 kali guguran lava ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum 2000 meter.

Hal itu berdasarkan hasil pemantauan BPPTKG Yogyakarta sepanjang periode pengamatan hari ini, Kamis (4/6/2026), pukul 00.00-06.00 WIB.

Hingga saat ini, Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan Level III (Siaga) untuk gunung berapi aktif di perbatasan DIY dan Jawa Tengah tersebut.

Untuk pengamatan visual, Gunung api terlihat jelas.

Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50 meter dari puncak.

Sementara untuk cuaca teramati cerah hingga berawan, angin tenang ke arah timur.

Suhu udara sekitar 18.2-19.3°C. Kelembaban 87-91.2 persen. Tekanan udara 873.8-916.9 mmHg.

Baca juga: Prakiraan Cuaca DIY Kamis 4 Juni 2026: Sebagian Wilayah Berawan dan Potensi Hujan Ringan

Lebih lanjut, BPPTKG Yogyakarta menyampaikan rekomendasi terkait potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.

Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.

Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.

Masyarakat pun diimbau agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya dan mewaspadai bahaya lahar serta awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.

Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved