Pengakuan Eks Pentolan Geng Pelajar Jogja: Bongkar Gurita Kaderisasi dan Penyesalan yang Tersisa

eskalasi kekerasan kian tak terkendali hingga terakhir berujung merenggut korban jiwa, buntut insiden di kawasan Kotabaru,

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
dok.istimewa
Ilustrasi 

​Melihat fenomena kekerasan jalanan saat ini yang kian brutal hingga merenggut nyawa, ada rasa prihatin sekaligus ngeri yang dirasakan pria yang telah beranjak dewasa ini.

Bagor bahkan berseloroh, jika situasi geng sekolah di zamannya sebrutal sekarang, ia akan memilih jalan yang berbeda dan tidak akan terjun ke lembah hitam itu.

​"Luar biasa prihatin. Anak-anak sekarang semakin banyak yang kehilangan kontrol, lebih berani melancarkan aksi. Terus terang, aku dulu bawa sajam pun tidak berani, apalagi sampai menusuk seperti itu. Sudah kelewat batas sekarang," tuturnya.

"Mungkin, kalau pola geng sekolah dulu itu sudah seperti sekarang, aku pun memilih jadi anak baik-baik saja. Kasihan bapak ibuku kalau aku kenapa-kenapa di jalan," urai Bagor.

​Kini, dalam setiap perjumpaan yang intensitasnya sudah semakin langka, ia bersama teman-teman lama sesama mantan anggota geng selalu membahasnya.

Sebuah penyesalan dan perasaan malu mendalam, yang baru datang dan dirasakannya ketika kedewasaan yang tak dapat dihindari itu tiba.

​"Lebih ke malu, kadang aku sama teman-teman mikir, 'kita dulu ngapain, sih?', dibela-belain sampai segitunya. Tapi, ya sudah, masa-masa itu sudah lewat. Ini mungkin yang harus direnungkan adik-adik pelajar di masa sekarang," pungkasnya. (aka)

 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved