Pengakuan Eks Pentolan Geng Pelajar Jogja: Bongkar Gurita Kaderisasi dan Penyesalan yang Tersisa

eskalasi kekerasan kian tak terkendali hingga terakhir berujung merenggut korban jiwa, buntut insiden di kawasan Kotabaru,

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
dok.istimewa
Ilustrasi 
Ringkasan Berita:
  • Aksi kekerasan jalanan pelajar di Yogyakarta kembali marak dan menelan korban jiwa dalam insiden di Kotabaru.
  • Mantan pentolan geng sekolah mengungkapkan adanya sistem kaderisasi terstruktur sejak tahun ajaran baru, di mana siswa dipaksa bergabung lewat ancaman perundungan.
  • Terjadi pergeseran pola kekerasan dari duel tangan kosong di masa lalu menjadi aksi penyerangan acak menggunakan senjata tajam yang kini dinilai sudah kelewat batas.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Aksi kekerasan jalanan yang melibatkan oknum pelajar belakangan ini kembali mencuat dan meresahkan warga Kota Yogyakarta. 

Ironisnya, eskalasi kekerasan kian tak terkendali hingga terakhir berujung merenggut korban jiwa, buntut insiden di kawasan Kotabaru, Minggu (17/5/2026) lalu.

Fenomena ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak, termasuk mereka yang pernah berada di dalam lingkaran hitam tersebut.

​Bagor (bukan nama sebenarnya), seorang alumnus salah satu SMA di Kota Yogyakarta sekaligus mantan pentolan geng sekolah, buka suara mengenai sisi gelap dunia geng pelajar. 

Kepada Tribun Jogja, ia membeberkan bagaimana rantai kekerasan ini terus beregenerasi melalui sistem kaderisasi yang terstruktur secara rapi.

​Menurut Bagor, permusuhan antarsekolah yang mengakar kuat bukanlah sesuatu yang tumbuh secara organik, melainkan sengaja dipelihara dan diwariskan.

Proses penjaringan anggota baru bahkan sudah dimulai sejak hari pertama tahun ajaran baru bergulir oleh para senior dedengkot geng sekolah.

"Sejak tahun ajaran baru, senior-senior kelas tiga sudah melakukan pemetaan untuk istilahnya kaderisasi. Mereka memantau murid-murid baru di kelas satu yang berpotensi untuk direkrut," ujarnya, Selasa (19/5/2026).

​Pola perekrutannya pun terbilang rapi, di mana senior tidak langsung turun tangan secara massal, tetapi menunjuk satu koordinator dari angkatan baru yang dinilai memiliki pengaruh atau nyali lebih.

Setelah itu, koordinator kelas satu pun dipersilakan merekrut orang-orang kepercayaannya, yang bisa diandalkan untuk terjun menyasar akar rumput.

​"Mereka berpencar di anak-anak kelas satu, dari mulut ke mulut, mereka menyebar ke kelas-kelas, menggulirkan rekrutmen teman-teman seangkatannya," jelasnya.

​Bagor tidak menampik, banyak anak-anak yang bergabung secara sukarela karena sudah berniat masuk geng, atau demi sekadar mencari pengakuan atau eksistensi.

Namun, sistem ini pun menyisakan pilihan pahit bagi para siswa baru yang setengah hati, lantaran tak sedikit pula yang harus bergabung karena terpaksa.

​"Ada yang menolak juga. Tapi, yang menolak tentu ada konsekuensi perundungan (bullying) dan sebagainya sama senior. Itu menyeramkan juga bagi anak baru," ucapnya.

Baca juga: JOGJA HARI INI : Saling Tantang Berujung Maut

Doktrin

Setelah jejaring di kelas satu terbentuk, doktrinasi sesungguhnya dimulai. Momentumnya biasanya diambil tepat setelah Masa Orientasi Siswa (MOS) selesai. 

Para junior ini dikumpulkan di tempat tongkrongan geng. Dari tatap muka perdana itu, "peta permusuhan" dijabarkan secara gamblang oleh senior.

Siapa saja sekolah lawan, dan wilayah mana saja yang menjadi zona merah.

​"Mulai diajak mubeng (berkeliling) mencari mangsa di jalan. Di situ senior-senior ikut memantau dari belakang, seberani apa anak-anak baru yang direkrut," ungkapnya.

​Sekali kaki melangkah ke dalam lingkaran geng, jalan untuk keluar hampir tertutup rapat. Tekanan psikologis dan fisik dari para senior jadi benteng yang mengurung mereka. 

Bagor menceritakan, bagaimana sistem "sidang" berjalan di internal gengnya dulu, untuk para anggota yang kedapatan kabur dari medan pertempuran, atau sekadar absen nongkrong.

"Pernah ada yang ketahuan kabur waktu tempuk (bentrok) dengan sekolah lawan. Wah, pagi harinya selesai temanku itu, disidang habis-habisan sama senior," katanya.

"Terus ada juga yang disidang habis di tongkrongan gara-gara nggak nongkrong dalam waktu lama. Senioritas di sekolahku waktu itu seram banget," ungkap Bagor.

​Menyoroti maraknya korban jiwa akhir-akhir ini, Bagor melihat ada pergeseran pola perilaku yang sangat drastis dan berbahaya antara zamannya dulu dengan geng pelajar masa kini.

​Dulu, perseteruan antar-geng sekolah memiliki pola utama seperti tidak sengaja jumpa di jalan saat sama-sama bawa rombongan besar lalu terjadi bentrokan spontan.

Kemudian, sparring duel tangan kosong dengan jumlah yang ditentukan, misal 3 lawan 3 atau 5 lawan 5, di tempat netral yang disepakati, yang sekarang populer dengan istilah open fight.

​"Zamanku dulu memang jarang yang pakai sajam (senjata tajam). Aku paling mentok cuma bawa knock atau baton saja kalau tempuk. Tapi, sparring itu yang lebih minim risiko, paling mentok bonyok doang," kenangnya.

Namun, lanjut Bagor, yang merusak tatanan dan sangat berbahaya adalah aksi klitih, atau penyerangan yang benar-benar acak tanpa memandang target.

Alhasil, dirinya menyebut, banyak korban bermunculan dari sekolah musuh maupun sekolahnya, yang sebenarnya bukan merupakan bagian anggota geng.

​"Asal ketemu anak sekolah lawan, ya diserang, nggak peduli dia anggota geng atau bukan. Jadinya, banyak anak-anak yang terbilang lurus jadi korban, karena apes ketemu rombongan sekolah musuh yang baru patroli di jalan," cetusnya.

​Melihat fenomena kekerasan jalanan saat ini yang kian brutal hingga merenggut nyawa, ada rasa prihatin sekaligus ngeri yang dirasakan pria yang telah beranjak dewasa ini.

Bagor bahkan berseloroh, jika situasi geng sekolah di zamannya sebrutal sekarang, ia akan memilih jalan yang berbeda dan tidak akan terjun ke lembah hitam itu.

​"Luar biasa prihatin. Anak-anak sekarang semakin banyak yang kehilangan kontrol, lebih berani melancarkan aksi. Terus terang, aku dulu bawa sajam pun tidak berani, apalagi sampai menusuk seperti itu. Sudah kelewat batas sekarang," tuturnya.

"Mungkin, kalau pola geng sekolah dulu itu sudah seperti sekarang, aku pun memilih jadi anak baik-baik saja. Kasihan bapak ibuku kalau aku kenapa-kenapa di jalan," urai Bagor.

​Kini, dalam setiap perjumpaan yang intensitasnya sudah semakin langka, ia bersama teman-teman lama sesama mantan anggota geng selalu membahasnya.

Sebuah penyesalan dan perasaan malu mendalam, yang baru datang dan dirasakannya ketika kedewasaan yang tak dapat dihindari itu tiba.

​"Lebih ke malu, kadang aku sama teman-teman mikir, 'kita dulu ngapain, sih?', dibela-belain sampai segitunya. Tapi, ya sudah, masa-masa itu sudah lewat. Ini mungkin yang harus direnungkan adik-adik pelajar di masa sekarang," pungkasnya. (aka)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved