Heboh Pidato Prabowo 'Orang Desa Enggak Pakai Dolar', Begini Kata Ketum Muhammadiyah Haedar Nashir

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir meminta semua pihak untuk memahami pernyataan Presiden Prabowo Subianto

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja
Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir ditemui di Yogyakarta, Selasa (19/5/2026 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir meminta semua pihak untuk memahami pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai masyarakat desa yang tidak membutuhkan dolar AS secara proporsional. 

Pernyataan tersebut dinilai sebagai bentuk simplifikasi pesan agar publik tidak larut dalam kepanikan di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah, melainkan fokus pada semangat pemberdayaan sektor pertanian domestik.

Sudut pandang tersebut disampaikan Haedar menanggapi respons publik atas pidato Presiden Prabowo Subianto saat meresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur. 

Dalam kesempatan tersebut, Presiden berkelakar bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.600 per dolar AS tidak langsung berdampak pada masyarakat pedesaan yang dalam kesehariannya menggunakan mata uang rupiah.

Haedar Nashir menilai, pernyataan Prabowo tersebut tidak perlu ditarik ke dalam pusaran polemik yang terlalu jauh. 

Menurut dia, esensi dari pesan yang ingin disampaikan oleh Presiden adalah penguatan komitmen pemerintah terhadap ketahanan pangan dan sektor pertanian di tingkat akar rumput.

"Ya memang petani di desa enggak bayar pakai dolar, pakai rupiah. Tapi mungkin maksudnya Pak Presiden itu ingin memberdayakan petani dengan semangat membangun dunia pertanian, sektor pertanian yang baik. Lalu ketika ada fluktuasi kurs rupiah dan dolar, lalu dikait-kaitkan ya. Jadi, ya pahami saja pesan Presiden itu pada tempatnya, enggak usah dipahami dalam konteks lain," ujar Haedar ditemui di Yogyakarta, Selasa (19/5/2026).

Melalui cara pandang tersebut, Haedar mengajak masyarakat melihat sisi optimisme pemerintah. 

Alih-alih terjebak dalam perdebatan indikator makroekonomi yang rumit di tingkat desa, fokus utamanya harus dikembalikan pada bagaimana sektor pertanian lokal dapat diperkuat agar mandiri dan tahan terhadap guncangan eksternal.

Sebelumnya, pernyataan Presiden Prabowo sempat menuai sorotan tajam dari sejumlah pengamat ekonomi. 

Baca juga: Laporan Aktivitas Kegempaan Gunung Merapi Selasa 19 Mei 2026 Siang Ini

Kritikan muncul karena pada Jumat (15/5/2026), nilai tukar rupiah menembus level Rp17.600 per US$1—sebuah rekor yang memicu kekhawatiran atas penurunan daya beli masyarakat dan potensi kenaikan harga kebutuhan pokok.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia, khususnya di sektor pangan dan energi, masih berada dalam kondisi yang sangat stabil dibandingkan negara-negara lain.

"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke. Sekarang ada yang selalu… sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, rupiah begini, dolar begini… Mau dolar berapa ribu kek, orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok," kata Presiden Prabowo di Nganjuk.

Presiden juga menambahkan bahwa kekhawatiran berlebih terhadap kurs dolar biasanya melanda kelompok masyarakat yang sering bepergian ke luar negeri atau kalangan pengusaha besar. 

Selama indikator ekonomi makro yang diawasi oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih terkendali, Presiden meminta publik tetap memelihara kepercayaan terhadap kekuatan ekonomi nasional. (*)

 

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved