Pengakuan Eks Pentolan Geng Pelajar Jogja: Bongkar Gurita Kaderisasi dan Penyesalan yang Tersisa

eskalasi kekerasan kian tak terkendali hingga terakhir berujung merenggut korban jiwa, buntut insiden di kawasan Kotabaru,

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
dok.istimewa
Ilustrasi 

Setelah jejaring di kelas satu terbentuk, doktrinasi sesungguhnya dimulai. Momentumnya biasanya diambil tepat setelah Masa Orientasi Siswa (MOS) selesai. 

Para junior ini dikumpulkan di tempat tongkrongan geng. Dari tatap muka perdana itu, "peta permusuhan" dijabarkan secara gamblang oleh senior.

Siapa saja sekolah lawan, dan wilayah mana saja yang menjadi zona merah.

​"Mulai diajak mubeng (berkeliling) mencari mangsa di jalan. Di situ senior-senior ikut memantau dari belakang, seberani apa anak-anak baru yang direkrut," ungkapnya.

​Sekali kaki melangkah ke dalam lingkaran geng, jalan untuk keluar hampir tertutup rapat. Tekanan psikologis dan fisik dari para senior jadi benteng yang mengurung mereka. 

Bagor menceritakan, bagaimana sistem "sidang" berjalan di internal gengnya dulu, untuk para anggota yang kedapatan kabur dari medan pertempuran, atau sekadar absen nongkrong.

"Pernah ada yang ketahuan kabur waktu tempuk (bentrok) dengan sekolah lawan. Wah, pagi harinya selesai temanku itu, disidang habis-habisan sama senior," katanya.

"Terus ada juga yang disidang habis di tongkrongan gara-gara nggak nongkrong dalam waktu lama. Senioritas di sekolahku waktu itu seram banget," ungkap Bagor.

​Menyoroti maraknya korban jiwa akhir-akhir ini, Bagor melihat ada pergeseran pola perilaku yang sangat drastis dan berbahaya antara zamannya dulu dengan geng pelajar masa kini.

​Dulu, perseteruan antar-geng sekolah memiliki pola utama seperti tidak sengaja jumpa di jalan saat sama-sama bawa rombongan besar lalu terjadi bentrokan spontan.

Kemudian, sparring duel tangan kosong dengan jumlah yang ditentukan, misal 3 lawan 3 atau 5 lawan 5, di tempat netral yang disepakati, yang sekarang populer dengan istilah open fight.

​"Zamanku dulu memang jarang yang pakai sajam (senjata tajam). Aku paling mentok cuma bawa knock atau baton saja kalau tempuk. Tapi, sparring itu yang lebih minim risiko, paling mentok bonyok doang," kenangnya.

Namun, lanjut Bagor, yang merusak tatanan dan sangat berbahaya adalah aksi klitih, atau penyerangan yang benar-benar acak tanpa memandang target.

Alhasil, dirinya menyebut, banyak korban bermunculan dari sekolah musuh maupun sekolahnya, yang sebenarnya bukan merupakan bagian anggota geng.

​"Asal ketemu anak sekolah lawan, ya diserang, nggak peduli dia anggota geng atau bukan. Jadinya, banyak anak-anak yang terbilang lurus jadi korban, karena apes ketemu rombongan sekolah musuh yang baru patroli di jalan," cetusnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved