Cara Bulog Mengawal Napas Petani dan Masa Depan Pangan di Kulon Progo
Rasa cemas harga yang anjlok saat musim panen raya nanti sudah tak ada lagi setelah gabah yang dihasilkan oleh Gapoktannya dibeli oleh Bulog
Penulis: HAS | Editor: Hari Susmayanti
"Bulog perlu memperkuat infrastruktur logistik hingga ke pintu sawah. Penyediaan armada jemput bola bukan sekadar soal transportasi, tapi soal memotong biaya transaksi petani agar keuntungan mereka lebih utuh," jelas Agustinus.
Ia memandang kemitraan strategis dengan Gapoktan dan koperasi desa sebagai kunci untuk meningkatkan skala ekonomi petani lokal.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya modernisasi administrasi dan bantuan sarana pasca-panen, seperti bantuan pengeringan (dryer) dan penyederhanaan birokrasi kemitraan.
"Di usia yang kian matang, Bulog harus menjadi institusi yang paling mudah diakses oleh petani. Deregulasi syarat administrasi akan membuat petani merasa memiliki Bulog sebagai rumah besar mereka," tambahnya.
Menjawab Tantangan Regenerasi: Mengubah Wajah Pertanian
Terkait isu regenerasi, Agustinus menyoroti data BPS DIY yang menunjukkan tren penurunan jumlah petani muda.
Baginya, tugas "Menjaga Masa Depan" yang diemban Bulog adalah mengubah persepsi pertanian yang selama ini dianggap kurang menjanjikan bagi Generasi Z atau Strawberry Generation.
"Menarik minat generasi muda tidak bisa hanya dengan kenaikan harga gabah, tapi dengan menciptakan kepastian masa depan," tegasnya.
Ia berpendapat bahwa jika Bulog mampu menjamin ekosistem pertanian yang stabil, transparan, dan berbasis teknologi, maka sektor ini tidak akan lagi kalah bersaing dengan sektor formal perkotaan.
"Masa depan pangan kita bergantung pada kemampuan kita meyakinkan anak muda bahwa bertani itu keren dan sejahtera. Bulog, melalui peran stabilisatornya, adalah jangkar bagi keyakinan tersebut. Dengan begitu, kita tidak hanya menjaga stok beras, tapi juga menjaga keberlanjutan profesi petani untuk 59 tahun berikutnya dan seterusnya," pungkas Agustinus. (*)
| Cerita Guru Non-ASN di Sekolah Negeri di Jogja, Butuh Kepastian Nasib |
|
|---|
| Kronologi Pegawai PPPK DPUPKP Sleman Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Rumah |
|
|---|
| Drama Tiga WNI yang Ingin "Nyolong Start" Haji Lewat Jalur Belakang, Gagal di Batam, Gagal di YIA |
|
|---|
| Visi dan Misi Awal PSS Sleman di Super League Musim Depan |
|
|---|
| Sempat Mencoba Jalur Laut, 3 Calon Haji Prosedural Kembali Digagalkan di YIA |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Cara-Bulog-Mengawal-Napas-Petani-dan-Masa-Depan-Pangan-di-Kulon-Progo.jpg)