Cara Bulog Mengawal Napas Petani dan Masa Depan Pangan di Kulon Progo

Rasa cemas harga yang anjlok saat musim panen raya nanti sudah tak ada lagi setelah gabah yang dihasilkan oleh Gapoktannya dibeli oleh Bulog

Tayang:
Penulis: HAS | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja
Bulog membeli gabah yang dihasilkan oleh para petani di Gapoktan Ngestiharjo, Wates, Kulon Progo pada musim panen perdana beberapa waktu yang lalu 

Ringkasan Berita:
  • Kehadiran Bulog yang menyerap gabah dengan harga kompetitif Rp6.500/kg menghilangkan kecemasan petani Kulon Progo akan anjloknya harga saat panen raya.
  • Kepastian harga dan modernisasi teknologi menjadi angin segar untuk memotivasi generasi muda agar tertarik menekuni profesi petani yang menjanjikan.
  • Hingga Mei 2026, Bulog DIY berhasil menyerap 148.000 ton setara beras (76 persen dari target tahunan) sehingga stok pangan aman menghadapi kemarau.

 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Biasanya, masa panen bagi para petani di Kalurahan Ngestiharjo, Kapanewon Wates, kerap dibayangi kecemasan akan harga yang anjlok di tengah melimpahnya stok.

Namun, musim panen pertama beberapa waktu yang lalu menyuguhkan cerita yang jauh berbeda di hamparan sawah Kulon Progo.

Bulan Mei ini, para petani di areal persawahan di Ngestiharjo, Wates tengah disibukan dengan masa pemupukan.

Tanaman padi yang mereka tanam sudah berusia sekitar 35 hari. Daunnya sudah mulai terlihat hijau. Tampak subur.

Sahadadi Mulyono (40) sudah nampak sumringah menatap tanaman padi di lahan miliknya.

Terlihat ada keyakinan baru di matanya, sesuatu yang jarang ditemui pada musim-musim panen sebelumnya yang kerap berujung kecemasan akibat anjloknya harga.

Tak hanya Sahadadi, petani lainnya yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ngestiharjo, Wates juga sama.

Mereka semua terlihat lebih bersemangat merawat tanaman padinya. Harapan besar mereka adalah tanaman padi yang ditanamnya bisa panen melimpah sekitar dua bulan lagi.

Rasa cemas harga yang anjlok saat musim panen raya nanti sudah tak ada lagi setelah gabah yang dihasilkan oleh Gapoktannya dibeli oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) dengan harga Rp 6500 per kilogram.

Bagi mereka, angka ini bukan sekadar nilai tukar, melainkan napas baru setelah berbulan-bulan bergelut dengan lumpur dan biaya produksi yang kian mencekik.

Tak hanya menutup biaya produksi, namun dengan harga Rp 6500 yang ditetapkan oleh Bulog, mereka mendapatkan keuntungan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sahadadi mengaku semenjak gabah yang dihasilannya diserap seluruhnya oleh Bulog, para petani begitu bersemangat untuk merawat tanaman padinya.

Harga yang kompetitif dari Bulog membuat para petani berusaha semaksimal mungkin untuk merawat tanamannya supaya tumbuh subur, terbebas dari hama dan tentunya panen melimpah.

"Dulu (sebelum diserap oleh Bulog), setiap memasuki musim panen raya, malah menjadi petaka bagi petani. Sebab, harga gabahnya anjlok. Tapi sekarang (setelah diserap oleh Bulog), petani tambah semangat. Sangat membantu petani seperti kami," ucapnya kepada Tribun Jogja beberapa waktu yang lalu.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved