Cara Bulog Mengawal Napas Petani dan Masa Depan Pangan di Kulon Progo

Rasa cemas harga yang anjlok saat musim panen raya nanti sudah tak ada lagi setelah gabah yang dihasilkan oleh Gapoktannya dibeli oleh Bulog

Tayang:
Penulis: HAS | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja
Bulog membeli gabah yang dihasilkan oleh para petani di Gapoktan Ngestiharjo, Wates, Kulon Progo pada musim panen perdana beberapa waktu yang lalu 

Hingga awal Mei ini, Bulog DIY sudah menyerap 148.000 ton setara beras dari total target pengadaan tahun 2026 yang dipatok sebesar 196.000 ton setara beras.

Capaian ini menempatkan stok pangan dalam posisi yang sangat kuat, terutama dalam upaya menjaga ketahanan cadangan pangan pemerintah (CPP) guna menghadapi ancaman fenomena El Nino serta memasuki musim kemarau tahun ini.

Pemimpin Perum BULOG Kanwil Yogyakarta, Dedi Aprilyadi menjelaskan bahwa percepatan pengadaan di awal tahun ini merupakan langkah preventif agar pemerintah memiliki kendali penuh terhadap stok pangan saat produktivitas pertanian memasuki masa-masa menantang di tengah dinamika iklim.

Ia menegaskan bahwa dengan persentase serapan yang sudah melampaui tiga perempat dari target tahunan, posisi stok yang dikuasai saat ini memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Dedi Aprilyadi memaparkan optimisme terkait kesiapan infrastruktur dan cadangan beras yang dikelola instansinya. 

“Persiapan kami sangat luar biasa (memasuki musim kemarau). Pengadaan kami sudah mencapai 76 persen dari target yang ditetapkan. Jadi saat ini stok yang kita kuasai sangat luar biasa. Untuk menghadapi El Nino, stok kita aman untuk penyaluran,” ujar Dedi.

Sementara itu terkait dengan kesiapan infrastruktur yang dimiliki Bulog, Dedi menyebut, saat ini kapasitas gudang dalam kondisi prima, seiring melimpahnya serapan gabah dari petani lokal yang turut membuat stok cadangan pangan pemerintah terjaga dengan aman.

​“Kapasitas gudang kami mencukupi dan saat ini dalam kondisi terisi optimal seiring dengan tingginya penyerapan gabah petani. Hal ini menunjukkan kesiapan Bulog dalam menjaga cadangan pangan pemerintah,” ungkapnya.

​Saat ini, operasional Bulog Kanwil Yogyakarta didukung oleh jaringan gudang induk dan filial yang tersebar di berbagai titik dengan total kapasitas daya tampung mencapai lebih dari 285 ribu ton.

Lebih lanjut, guna menjaga konsistensi serapan gabah, Bulog pun aktif turun ke lapangan melalui strategi jemput bola dengan mematok harga serap gabah petani di angka Rp6.500 per kilogram.

Selain itu, jaringan Rumah Pangan Kita (RPK) juga terus diperkuat sebagai jalur distribusi langsung agar kebutuhan pokok lebih mudah diakses masyarakat.

​"Kami turun ke lapangan. Petani tidak perlu menunggu. Penyerapan kami lakukan secara aktif untuk memastikan hasil panen terserap optimal," pungkasnya.

Sinergi Strategis: Menjamin Keberlanjutan di Usia 59 Tahun

Cara Bulog Mengawal Napas Petani dan Masa Depan Pangan di Kulon Progo 1
Pakar Kebijakan Publik UGM, Agustinus Subarsono

Pakar Kebijakan Publik UGM, Agustinus Subarsono, menilai momentum usia ke-59 harus menjadi titik balik Bulog untuk memperkuat ekosistem pangan dari hulu ke hilir.

Menurutnya, penetapan harga Rp6.500 per kilogram adalah langkah awal yang brilian, namun "mengawal pangan" di masa depan membutuhkan langkah-langkah yang lebih progresif.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved