Dilema Perajin Tempe di Sleman: Harga Bahan Baku Melejit, Omzet Kian Terjepit
Kombinasi kenaikan harga kedelai impor dan pembungkus plastik membuat para perajin tempe kini berada di posisi buah simalakama.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Ringkasan Berita:
- Perajin tempe di Sleman dalam posisi dilema setelah harga bahan baku kedelai impor dan plastik pembungkus kian melonjak
- Kenaikan harga komoditas utama ini mulai terjadi bertahap setelah hari raya Idulfitri 2026 lalu.
- Perajin tempe berusaha tetap mempertahankan harga jual lamanya demi menjaga loyalitas pelanggan
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Industri rumahan tempe di Dusun Karangwuni, Kalurahan Bangunkerto, Kapanewon Turi, Sleman, kian terimpit oleh lonjakan harga bahan baku pascalebaran 2026.
Kombinasi kenaikan harga kedelai impor dan pembungkus plastik membuat para perajin tempe kini berada di posisi buah simalakama.
Pemilik Usaha Tempe Djanoko Pekalongan, M Agus Saeri, mengungkapkan kondisi pasar saat ini jauh lebih sulit dibandingkan tahun lalu.
Lesunya daya beli masyarakat membuat penjualan tempe menurun drastis di tengah biaya produksi yang melambung tinggi.
"Untuk tahun sekarang daripada kemarin untuk penjualan sangat susah. Di saat harga kedelai melambung tinggi ditambah plastik juga naik.Dampaknya, di pasar makin sepi," katanya, Kamis (14/5/2026).
Baca juga: PSEL DIY Ditunda, Sleman Andalkan Pasukan P3S untuk Tangani Sampah di Desa
Naik Bertahap
Menurut Agus, kenaikan harga komoditas utama ini mulai terjadi bertahap setelah hari raya Idulfitri lalu.
Pada bulan Ramadan lalu, harga kedelai Bola Hijau masih berada di angka Rp9.500 per kilogram.
Namun, pada pertengahan April 2026, harganya sudah melompat ke Rp10.500 per kg.
Dan hingga kini terus merangkak naik sekitar Rp50 hingga Rp200 per kilogram.
Kondisi ini diperparah oleh harga plastik pembungkus yang melonjak hampir dua kali lipat.
Plastik yang semula hanya Rp5.800 per pack, kini menyentuh Rp9.000 untuk semua jenis ukuran.
Susah Naikkan Harga
Di sisi lain, perajin tidak memiliki keleluasaan untuk menyesuaikan harga jual ke konsumen.
Karakteristik komoditas tempe yang sangat sensitif terhadap perubahan harga dan ukuran menjadi tantangan terbesar yang dihadapi perajin sejak dulu.
"Untuk harga tempe gak bisa naik, walaupun harga plastik dan kedelai naik. Susah untuk menaikkan harga. Kalau dikurangi (ukuran) banyak yang protes, dinaikkan apalagi. Serba susah. Dari dulu tempe paling ribet untuk menaikkan harga atau mengurangi bobotnya," papar Agus.
| Dugaan Malapraktik di RSUD Prambanan, Dinkes DIY Soroti Pentingnya Komunikasi Risiko Medis |
|
|---|
| Kejari Sleman Musnahkan Ribuan Barang Bukti, dari Obat-obatan Terlarang Hingga Ribuan Tas Laptop |
|
|---|
| Kasus Dugaan Malapraktik Balita, Komisi D DPRD Sleman Bakal Panggil Dirut RSUD Prambanan |
|
|---|
| Detik-detik Kepergian Naura Dwi Meydita Putri, Korban Kasus Dugaan Malapraktik RSUD Prambanan |
|
|---|
| Teror Api Rumah Seyegan Belum Berhenti, Tercatat 87 Kejadian Kebakaran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Tempe-Olahan-Kedelai.jpg)