PSEL DIY Ditunda, Sleman Andalkan Pasukan P3S untuk Tangani Sampah di Desa
Penundaan proyek PSEL disebut bakal berdampak langsung pada manajemen sampah di daerah, termasuk di Kabupaten Sleman.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mulai berupaya membentengi wilayahnya dari ancaman darurat sampah, menyusul penundaan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) DIY hingga 2028.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman berupaya memperkuat lini hulu lewat pembentukan Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) di 17 Kecamatan dan 86 kalurahan untuk memangkas timbulan sisa buangan sampah dari sumbernya.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Sugeng Riyanta, mengakui penundaan infrastruktur pengolahan sampah menjadi energi tersebut bakal berdampak langsung pada manajemen sampah di daerah, termasuk di Kabupaten Sleman.
"(Ditundanya PSEL) tentu sama-sama akan dirasakan dampaknya. Karena PSEL digunakan oleh tiga daerah, Kota Yogyakarta, Bantul dan Sleman," ujar Sugeng, dihubungi Kamis (14/5/2026).
Apalagi, Kabupaten Sleman belum sepenuhnya sanggup mengelola timbulan sampah secara mandiri.
Ketergantungan Sleman membuang sebagian sampahnya ke tempat pembuangan akhir (TPA) Piyungan masih cukup tinggi.
Volume Sampah Meningkat
Berdasarkan data Balai Pengelolaan Sampah DLHK DIY periode 2024–2026, volume sampah Sleman yang dievakuasi ke TPA Piyungan terus melonjak.
Pada tahun 2024, akumulasi sampah Sleman mencapai 1.159.250 ton dengan rata-rata harian 4,7 ton.
Angka tersebut melesat tajam pada tahun 2025 menjadi total 1.689.030 ton, atau setara 5,0 ton per hari.
Tren peningkatan juga terjadi pada awal tahun 2026 (Januari–31 Maret), di mana pasokan sampah Sleman melonjak drastis ke angka 6,8 ton per hari dengan total akumulasi 618.070 ton dalam tiga bulan saja.
Baca juga: Disdik Sebut Kuota Bangku SMP di Sleman Surplus 2.840 Kursi pada SPMB 2026
Angka harian awal 2026 ini bahkan melampaui volume Kota Yogyakarta dan menjadi rekor tertinggi Sleman dalam tiga tahun terakhir.
Meski demikian, kata Sugeng, angka evakuasi sampah tersebut tidak sepenuhnya berakhir sebagai beban TPA.
Mengingat, jumlah timbulan sampah harian di Sleman dengan total 600 ton sebagian besar sanggup diolah di TPST dan hanya sebagian kecil atau residu yang dievakuasi ke Piyungan.
"Pengertiannya, tidak semua sampah yang tidak diolah di TPST dikirim ke TPA Piyungan, tetapi dikelola oleh masyarakat secara mandiri. Rata-rata residu sampah yang dikirim ke TPA Piyungan tahun 2025 kurang lebih 5 ton per hari. Di 2026 sampai Maret memang ada kenaikan," katanya.
Kerahkan Pasukan P3S
Untuk mengerem laju timbulan sampah ke TPA selama masa penundaan PSEL, DLH Sleman mengandalkan strategi edukasi masif berbasis komunitas.
| Dukung Raperda Sampah, PKS Pertanyakan Pemanfaatan Teknologi dan Kerja Sama Pengelolaan TPA Klaten |
|
|---|
| Fraksi Golkar DPRD Klaten Soroti 7 TPS 3R Mati Suri, Usul Setiap Desa Kelola Sampah Mandiri |
|
|---|
| Fraksi PDIP DPRD Klaten Pilih Dalami Substansi Dua Raperda, Soroti Upaya Lawan Narkoba dan Sampah |
|
|---|
| Tak Ada Peningkatan Volume Sampah di Pantai Parangtritis Selama Momen Libur Panjang |
|
|---|
| DPRD Klaten Mulai Bahas Dua Raperda Strategis, Pemkab Soroti Ancaman Narkoba dan Persoalan Sampah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Foto-Berita-Sleman-Hari-Ini.jpg)