Menghirup Kembali Aroma Tahun 80-an di Rumah Nayantaka Batik

Di sanalah, Tumilan menjaga nyala api di bawah wajan kecilnya, merawat industri batik tulis yang ia beri nama Nayantaka Batik.

Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana
Sejumlah ibu-ibu sedang membuat batik di Nayantaka Batik Jalan Gunting, Padukuhan Gunting, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta pada Jumat (24/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Tumilan, pemilik Nayantaka Batik di Bantul, merintis usaha batik tulis secara otodidak sejak SMP demi melestarikan tradisi desanya yang sempat berjaya di era 1980-an.
  • Berawal dari kondisi ekonomi yang sulit, Tumilan berjuang memasarkan batiknya dengan berjalan kaki hingga kini sukses memberdayakan puluhan warga sekitar.
  • Meski produknya kini diminati hingga luar Jawa dengan harga mencapai jutaan rupiah, Tumilan mengkhawatirkan tersendatnya regenerasi pembatik muda di wilayahnya.

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Jumat (24/4/2026) pagi di Jalan Gunting, Padukuhan Gunting, aroma khas itu kembali menyeruak.

Bau campuran malam yang meleleh perlahan tertiup angin, menyapa setiap orang yang melintas di depan sebuah rumah di Kalurahan Gilangharjo, Pandak, Bantul.

Di sanalah, Tumilan menjaga nyala api di bawah wajan kecilnya, merawat industri batik tulis yang ia beri nama Nayantaka Batik.

Bagi Tumilan, bau lilin yang menyengat ini adalah mesin waktu.

Ia membawa ingatannya terbang kembali ke medio 1980-an, masa keemasan di mana desanya bernapas melalui canting.

"Dulu, lingkungan di sini membatik semua. Tahun 1980-an itu enggak ada rumah yang enggak membatik. Sampai-sampai kalau malam hari bau lilin malam," kenang Tumilan dengan tatapan menerawang.

Nayantaka Batik lahir bukan dari rencana bisnis yang mewah, melainkan dari sebuah kondisi "kepepet" yang berpadu dengan kegelisahan budaya.

Saat masih duduk di bangku SMP, di tengah lingkungan yang riuh oleh goresan malam, Tumilan mulai belajar secara otodidak.

Ia melihat tetangga kanan-kirinya, menyerap ilmu dari keseharian, hingga akhirnya memutuskan untuk terjun sepenuhnya.

Baca juga: Kekeringan Mengintai, Belum Masuk Musim Kemarau, Pak Lurah Giripurwo Sudah Beli 2 Tangki Air Bersih

Meski awalnya terhimpit kebutuhan ekonomi, pria ini membawa misi yang jauh lebih besar dari sekadar mencari sesuap nasi.

"Kebetulan saat itu saya mempunyai misi untuk melestarikan budaya. Itu yang paling utama. Akhirnya jatuh terhadap pilihan membatik," pungkasnya di sela aktivitas membatik pagi itu.

Jiwa bisnis memang sudah menyatu dengan darah Tumilan.

Bagaimana tidak, saat mengeyam pendidikan tinggi, Tumilan memanfaatkan waktu senggangnya untuk berjualan batik produksinya.

"Saya juga pernah jalan kaki untuk masarin batik saya. Jadi ya perjuangan sekali. Tapi, orang tua saya itu enggak ada yang membatik. Jadi saya benar-benar otodidak belajar batik dan memasarkannya," ucap Tumilan yang juga merupakan Dukuh Gunting.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved