Pemuda di Bantul Suarakan Isu Kesehatan Mental Lewat Lagu 'Happy'

Happy dipilih sebagai lagu perkenalan dikarenakan memiliki struktur musik yang easy listening dan mudah diterima oleh pendengar.

Tayang:
Istimewa/Dok. Black Langues
LAGU HAPPY: Personel Band Black Langues dan sejumlah pihak sedang berdiskusi terkait lagu Happy di Kabupaten Bantul. 

Ringkasan Berita:
  • Anak muda Bantul melalui band Black Langues merilis lagu Happy untuk menyuarakan isu kesehatan mental dan menolak bunuh diri sebagai pilihan.
  • Lagu ini membawa pesan harapan bahwa di balik kesulitan selalu ada cahaya, sekaligus ajakan peduli pada kesehatan mental generasi muda.
  • Pembina band menekankan pentingnya perhatian keluarga, lingkungan, dan pemangku kebijakan terhadap kesehatan mental anak muda.

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sejumlah anak muda di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, tengah menyuarakan isu menjaga kesehatan mental dan mengelola depresi melalui musik dengan lagu berjudul 'Happy'.

Pencipta lagu 'Happy', Michael Aaron Donispuro, berujar, Happy dipilih sebagai lagu perkenalan dikarenakan memiliki struktur musik yang easy listening dan mudah diterima oleh pendengar.

Mati bukanlah opsi

"Lagu ini menceritakan tentang banyaknya hal yang bisa dilihat dari hidup dan bahwa mati bukanlah sebuah opsi," kata Aaron, melalui keterangannya, Minggu (17/5/2026).

Lagu itu, ia bawakan bersama beberapa rekannya dengan grup band Black Langues yang mulai terbentuk pada Agustus 2025. Di mana, komposer dan lyricist yakni Aaron sendiri, produser yakni Aaron dan Bayu Randu, serta artwork yakni Muhammad Hisyam Haily.

Selanjutnya, gitar dan vokal yakni Aaron, backing vokal yakni Valentino Austin Donisputro dan Zidan Alfi Alkautsar, drummer yakni Valentino Austin Donisputro, hingga bassist yakni Muhammad Haidar.

"Tapi, di balik nuansa tersebut, lagu ini membawa pesan yang cukup dalam mengenai kehidupan dan kesehatan mental anak muda saat ini, perlu mendapat perhatian lebih, baik dari keluarga, lingkungan sekitar, masyarakat dan pemangku kepentingan," ucapnya.

Ia mengaku prihatin dengan banyaknya kabar bunuh diri yang terjadi di kalangan generasi muda. Menurutnya tidak sedikit anak muda saat ini mudah untuk bertindak gegabah yakni melakukan percobaan mengakhiri hidup dengan cara tidak benar.

"Banyak (yang melakukan tindakan percobaan bunuh diri). Ada kenalan saya yang hampir kelewatan. Sampai sudah masuk rumah sakit dan yang overdosis (melakukan percobaan bunuh diri) sudah ada," papar dia.

Ada secercah cahaya

Melalui lagu ini, Aaron ingin menunjukkan bahwa roda berputar, sehingga setiap kesulitan terdapat hasil yang manis jika dijalani dengan bijak. Ia mengaku menjadi seseorang dengan kebutuhan khusus yakni diskalkulia serta beberapa catatan lainnya. 

Keterbatasan tersebut, sempat membuat Aaron harus memutuskan pindah sekolah agar dapat memenuhi kebutuhan dan pengembangan diri sesuai bakat yakni di bidang musik.

Tak heran, bila sekilas dilihat dan didengar, lirik lagu lagu Happy cukup suram. Tetapi hal tersebut merupakan desain, bahwa tindakan bunuh diri itu bukan sebuah pilihan, bukan pilihan terbaik. 

"Jadi segelap-gelapnya kegelapan itu masih ada secercah cahaya. Artinya esensi dari lagu Happy adalah sebuah ajakan, bahwa kehidupan selalu memiliki harapan," paparnya.

Sementara itu, pembina Black Langues, Maria Ninis, menilai, kesehatan mental anak muda sekarang perlu mendapat perhatian lebih baik dari keluarga, lingkungan sekitar masyarakat dan pemangku kebijakan. 

"Kita semua harus peduli pada anak muda dan kesehatan mental mereka. Dengan penanganan yang tepat, maka masalah mereka bisa teratasi dan kesehatan mental bisa terjaga," katanya.(nei)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved