Ancaman Campak Bayangi Yogyakarta Meski Imunisasi Tinggi

Capaian imunisasi yang tinggi ternyata belum sepenuhnya mampu membebaskan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dari ancaman campak. 

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Dokumentasi Pemkot Yogya
Imunisasi melalui program BIAS yang digulirkan Pemkot Yogya. 

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mencatat enam kasus positif campak sepanjang Januari hingga Februari 2026. Meski situasi relatif terkendali dibandingkan tren nasional, Pemkot menyoroti fenomena masih adanya orang tua yang enggan memberikan vaksin kepada anaknya.

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, menjelaskan bahwa dari 45 kasus suspek campak yang diperiksa melalui laboratorium, enam di antaranya dinyatakan positif.

“Kalau dibandingkan nasional, di sini relatif aman terkendali, tidak masuk kategori KLB (Kejadian Luar Biasa),” ujarnya, Kamis (5/3/2026).

Yang mengkhawatirkan, seluruh pasien positif campak tersebut tidak memiliki riwayat vaksinasi. 

Lana menegaskan, kendala bukan karena stok atau akses vaksin, melainkan adanya penolakan dari sebagian orang tua. Fenomena anti-vaksin ini masih ditemukan meski layanan imunisasi tersedia gratis di Puskesmas dan sosialisasi sudah digencarkan.

“Pendekatannya sudah lintas sektor, dengan wilayah Kemantren, Kelurahan, hingga tokoh agama. Tapi kalau sudah beranggapan vaksin tidak perlu, ya agak sulit,” jelasnya.

Enam pasien campak terdiri atas satu bayi di bawah satu tahun, satu anak usia 5 tahun, satu anak usia 6 tahun, dua anak usia 8 tahun, serta satu orang dewasa berusia 28 tahun. Seluruh pasien kini telah sembuh, tanpa laporan kematian akibat komplikasi.

Lana menekankan bahwa capaian Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Kota Yogyakarta sebenarnya sangat tinggi, mencapai 95–97 persen. Namun, sisa kecil warga yang menolak vaksin menjadi celah bagi virus untuk tetap menyebar.

“Tidak ada kata terlambat untuk vaksinasi susulan, khususnya bagi anak-anak yang terlewat jadwal imunisasinya. Vaksin MR diberikan pada usia 9 bulan, booster di usia 18 bulan, dan kembali diperkuat saat BIAS kelas 1 SD,” pungkasnya. (Tribunjogja.com/Han/Aka)

Bertambah 2, Total Pasien Campak di Sumenep yang Meninggal jadi 22 Orang

 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved