Pemkot Yogya Gencarkan Sweeping Imunisasi Campak, Sasar Anak yang Tercecer Vaksinasi

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta semakin memperketat pengawasan terhadap capaian imunisasi anak di wilayahnya

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
Dok Dinkes Kota Yogya
Kegiatan bulan imunisasi anak sekolah yang digulirkan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, beberapa waktu lalu. 

Ringkasan Berita:
  • Dinkes Kota Yogyakarta melakukan sweeping dan edukasi langsung ke warga untuk menyisir anak-anak yang belum melengkapi imunisasi campak dan rubella (MR) guna mencegah lonjakan kasus.
  • Meski imunisasi dasar mencapai 96 persen, dosis penguat masih di angka 88,87 % . Kendala utama adalah adanya sebagian orang tua yang masih enggan memvaksin anaknya.
  • Dinkes menegaskan imunisasi adalah hak anak yang dilindungi UU. Target cakupan 90 % dikejar demi membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta semakin memperketat pengawasan terhadap capaian imunisasi anak di wilayahnya.

Langkah ini ditempuh untuk mengantisipasi kenaikan kasus campak yang mulai muncul di sejumlah daerah di Indonesia beberapa waktu terakhir.

Bukan sekadar imbauan, petugas kesehatan pun melakukan tindakan jemput bola atau sweeping untuk menyisir anak-anak yang belum mendapat imunisasi Campak maupun Measles and Rubella (MR) secara lengkap.

​Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, mengungkapkan, langkah edukasi dan penyisiran ini krusial untuk menutup celah penyebaran virus.

​"Kami melakukan edukasi dan sweeping. Bekerja sama dengan kader, menyisir anak-anak yang belum lengkap imunisasinya, untuk diberikan imunisasi campak," ungkapnya, Minggu (5/4/2026).

​Berdasarkan data terbaru, capaian imunisasi MR di Kota Yogyakarta pada tahun 2025 sebenarnya sudah tergolong tinggi, mencapai 96,63 persen. 

Namun, untuk dosis penguat atau booster (MR2), masih berada di 88,87 persen, sementara program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) 2025 tercatat sebesar 96,20 persen.

​Adanya selisih atau gap persentase tersebut ditengarai karena masih ada sebagian orang tua yang enggan membawa buah hatinya untuk divaksin.

Baca juga: Muscab PKB Kota Yogya Munculkan 2 Nama Calon Ketua, Targetkan 1 Fraksi di Pileg 2029

Ia menyebut, masyarakat yang enggan mengikuti imunisasi ini lokasinya menyebar dan tidak terkonsentrasi dalam satu komunitas tertentu, sehingga petugas harus lebih teliti dalam melakukan penyisiran.

"Jadi, memang dari tahun ke tahun itu ada saja yang belum sepaham. Sudah diupayakan Puskesmas melakukan promosi ke wilayah dan kader itu sudah sering mengimbau. Kita juga pernah menggandeng dari yang spesialis anak dan ahli di bidang agama, kita sandingkan dan pembekalan ke mana-mana," ucap Endang.

​Di sisi lain, stok vaksin campak di Kota Yogyakarta dipastikan aman dan tersedia secara gratis di seluruh Puskesmas yang tersebar di tingkat kemantren.

Selain melalui layanan rutin, Pemkot juga akan menggencarkan imunisasi MR bagi siswa kelas 1 SD pada bulan Agustus mendatang melalui program BIAS.

​Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, merinci, saat ini tercatat ada 7 kasus campak di wilayahnya. 

Ia pun menekankan pentingnya mencapai ambang batas herd immunity atau kekebalan kelompok sebesar 90 persen untuk melindungi mereka yang tidak bisa divaksin karena kondisi medis tertentu.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved