Jelang Ramadan, Pemda DIY Perketat Pengendalian Inflasi dan Jaga Stabilitas Ekonomi
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memperketat pengendalian inflasi melalui koordinasi lintas daerah.
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
“Inflasi yang terkendali, ibarat denyut halus dalam tubuh perekonomian. Bergerak namun tidak mengganggu, hadir namun tidak meresahkan. Sebaliknya, inflasi yang tidak terkendali, bekerja secara senyap namun sistemik. Menggerus daya beli dengan pengurangan perlahan, atas kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasarnya,” papar Sultan.
Dalam kesempatan itu, Sultan juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur TPID dan pemangku kepentingan yang dinilai konsisten menjaga keseimbangan harga di DIY.
Kinerja tersebut tercermin dari capaian DIY sebagai Juara II TPID Provinsi Berkinerja Terbaik Kawasan Jawa–Bali pada TPID Award 2025.
“Prestasi itu diharapkan sebagai daya dorong, agar koordinasi yang rapi, dan langkah yang terukur senantiasa berlanjut, terutama dalam menghadapi dinamika Ramadan dan Idul Fitri. Dengan kesiagaan dan tindakan yang tepat, stabilitas harga akan tetap berada dalam koridor yang wajar,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menyatakan HLM TPID digelar sebagai bentuk kesiapan daerah menghadapi Ramadan dan HBKN Idul Fitri 1447 H.
Ia memaparkan, kinerja perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi DIY pada akhir 2025 tercatat 5,94 persen, lebih tinggi dibandingkan capaian akhir 2023 sebesar 5,4 persen, sekaligus menjadi yang tertinggi di wilayah Jawa dan berada di atas rata-rata nasional.
“Pertumbuhan ekonomi DIY di akhir 2025 ini bahkan menjadi yang tertinggi di wilayah Jawa, dan di atas rata-rata ekonomi nasional. Faktor pendorong tumbuhnya ekonomi DIY di 2025, selain karena permintaan domestik yang kuat, juga karena kenaikan UMP DIY 2025 yang sekitar 6,5 persen. Selanjutnya, pembangunan infrastruktur, peningkatan usaha pariwisata, dan peningkatan produktivitas pertanian pasca El Nino,” paparnya.
Sudibyo menambahkan, tekanan inflasi cenderung meningkat menjelang Ramadan seiring naiknya konsumsi masyarakat.
Selain lonjakan permintaan, perubahan struktur inflasi juga memengaruhi komoditas pangan, khususnya hortikultura.
“Penyumbang inflasi jelang HBKN ialah pangan komoditas strategis, di antaranya bawang merah, cabe rawit, telur ayam ras, dan daging ayam ras. Mencermati potensi risiko inflasi ke depan, termasuk dalam kesiapan menjelang Ramadan dan Idul Fitri 1447 H, beberapa upaya dapat dilakukan oleh TPID DIY, salah satunya dengan penguatan komunikasi efektif, dari hulu hingga hilir untuk menjaga dan mengelola ekspektasi masyarakat, baik kepastian produksi, distribusi, hingga pola konsumsi,” ujarnya. (*)
| Sri Sultan HB X Persilakan Komisi X DPR Panggil Disdikpora DIY Terkait Kasus Kekerasan "Daycare" |
|
|---|
| Sri Sultan HB X Tak Habis Pikir, Pertanyakan Naluri Keibuan 13 Tersangka Daycare Little Aresha |
|
|---|
| Titah Sri Sultan HB X kepada 392 Lurah se-DIY soal Dana Kalurahan |
|
|---|
| Hormati Proses Hukum, Sri Sultan Tanggapi Vonis 6 Tahun Sri Purnomo di Kasus Hibah Pariwisata Sleman |
|
|---|
| Ekonom UMY Perkirakan Inflasi DIY Meningkat pada April 2026, Ini Pemicunya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Jelang-Ramadan-Pemda-DIY-Perketat-Pengendalian-Inflasi-dan-Jaga-Stabilitas-Ekonomi.jpg)