Ketua BEM UGM Diteror
Ketua BEM UGM Terima Rentetan Teror Usai Bersurat ke UNICEF: Semakin Ditekan Semakin Melawan
Tidak hanya teror pesan, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu juga dikuntit oleh dua orang tidak dikenal dan difoto dari kejauhan.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Pesan WhatsApp nomor asing berisi rentetan teror masuk ke gawai Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, setelah pengiriman surat tentang 'ironi Tanah Air' ke UNICEF
- Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu juga dikuntit oleh dua orang tidak dikenal dan difoto dari kejauhan.
- Melalui surat berisi ironi Tanah Air ke UNICEF itu, ia mengajak dunia ikut menegur pemerintah Indonesia.
- Meski banyak teror menimpanya, ia tidak gentar menyuarakan kegelisahannya. ‘semakin ditekan, semakin melawan’
Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pesan WhatsApp dari nomor asing masuk ke gawai milik Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto. Nomor yang tertera berasal dari Inggris Raya, namun pesan disampaikan dengan Bahasa Indonesia.
Pesan tersebut masuk terus-menerus. “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr” “Banci” “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.
Teror setelah kirim surat UNICEF
Pesan itu masuk dari nomor yang sama, namun dikirim dalam waktu yang berbeda-beda.
Pertama kali, teror itu diterima Tiyo pada Senin (9/2/2026).
Ada sekitar enam nomor asing yang terus menghubunginya, namun tidak ditanggapi.
Dikuntit dua orang
Tidak hanya teror pesan, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu juga dikuntit oleh dua orang tidak dikenal dan difoto dari kejauhan.
Sayangnya, dua sosok bertubuh tegap itu hilang ketika dikejar.
Tiyo menceritakan teror itu diterima pasca BEM UGM mengirimkan surat ke Nations Children’s Fund (UNICEF), Jumat (6/2/2026).
Surat tentang 'ketidaktahuan' Presiden RI
Surat itu dikirimkan karena melihat ironi di tanah air.
Kala seorang anak di Ngada, NTT memilih untuk mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli pena dan buku, negara menggelontorkan Rp 16,7 triliun untuk iuran pda Board of Peace (BoP). Pemerintah juga menggelontorkan dana Rp 1,2 triliun per hari untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Ada satu ironi yang luar biasa yang mendorong teman-teman BEM UGM untuk mengirimkan surat kepada UNICEF. Ini adalah ikhtiar sekaligus wajah paling nyata, bahwa di republik ini tidak ada lagi yang bisa diharapkan,” katanya saat ditemui di Bundaran UGM, Jumat (13/2/2026).
“Rasanya pak presiden ini tidak sadar bahwa beliau punya ketidaktahuan terhadap realitas ini. Ketidaktahuan itu kita ambil sebagai diksi stupid. Karena dalam KBBI, bodoh itu artinya tidak tahu. Maka kita ingin supaya ada pihak luar yang didengar oleh Presiden, ketimbang publiknya sendiri,” sambungnya.
Agar dunia menegur Indonesia
Melalui surat itu, ia ingin mengajak dunia untuk ikut menegur pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia salah meletakkan prioritas. Mestinya prioritas pemerintah Indonesia adalah peningkatan pendidikan dan kesehatan.
| LPSK Yogyakarta Terima Laporan Dugaan Teror terhadap Ketua BEM UGM, Ini Responnya |
|
|---|
| Kala Kritik Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Berujung Isu LGBT dan Teror Tengah Malam untuk Ibunda |
|
|---|
| Ibunda Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Turut Diteror Orang Tak Dikenal |
|
|---|
| Amnesty Internasional: Teror ke Ketua BEM UGM Bukan Kriminalitas Biasa |
|
|---|
| Respon LBH Yogyakarta Soal Teror Terhadap Ketua BEM UGM: Negara Harus Beri Perlindungan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ketua-BEM-UGM-Terima-Rentetan-Teror-Usai-Bersurat-ke-UNICEF-Semakin-Ditekan-Semakin-Melawan.jpg)