Ketua BEM UGM Diteror

Ketua BEM UGM Terima Rentetan Teror Usai Bersurat ke UNICEF: Semakin Ditekan Semakin Melawan

Tidak hanya teror pesan, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu juga dikuntit oleh dua orang tidak dikenal dan difoto dari kejauhan.

|
Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani
RENTETAN TEROR: Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto menyampaikan orasi dalam aksi Karaoke WNI Mumet yang digelar oleh Komunitas Suara Ibu Indonesia di Yogyakarta di Bundaran UGM, Jumat (13/2/2026). Tiyo mendapat rentetan teror setelah pengiriman surat Ironi Tanah Air ke UNICEF. 

Ringkasan Berita:
  • Pesan WhatsApp nomor asing berisi rentetan teror masuk ke gawai Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, setelah pengiriman surat tentang 'ironi Tanah Air' ke UNICEF
  • Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu juga dikuntit oleh dua orang tidak dikenal dan difoto dari kejauhan.
  • Melalui surat berisi  ironi Tanah Air ke UNICEF itu, ia mengajak dunia ikut menegur pemerintah Indonesia. 
  • Meski banyak teror menimpanya, ia tidak gentar menyuarakan kegelisahannya. ‘semakin ditekan, semakin melawan’

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pesan WhatsApp dari nomor asing masuk ke gawai milik Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto. Nomor yang tertera berasal dari Inggris Raya, namun pesan disampaikan dengan Bahasa Indonesia.

Pesan tersebut masuk terus-menerus. “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr” “Banci” “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.

Teror setelah kirim surat UNICEF 

Pesan itu masuk dari nomor yang sama, namun dikirim dalam waktu yang berbeda-beda.

Pertama kali, teror itu diterima Tiyo pada Senin (9/2/2026).

Ada sekitar enam nomor asing yang terus menghubunginya, namun tidak ditanggapi.

Dikuntit dua orang

Tidak hanya teror pesan, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu juga dikuntit oleh dua orang tidak dikenal dan difoto dari kejauhan.

Sayangnya, dua sosok bertubuh tegap itu hilang ketika dikejar.

Tiyo menceritakan teror itu diterima pasca BEM UGM mengirimkan surat ke Nations Children’s Fund (UNICEF), Jumat (6/2/2026).

Surat tentang 'ketidaktahuan' Presiden RI

Surat itu dikirimkan karena melihat ironi di tanah air. 

Kala seorang anak di Ngada, NTT memilih untuk mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli pena dan buku, negara menggelontorkan Rp 16,7 triliun untuk iuran pda Board of Peace (BoP). Pemerintah juga menggelontorkan dana Rp 1,2 triliun per hari untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Ada satu ironi yang luar biasa yang mendorong teman-teman BEM UGM untuk mengirimkan surat kepada UNICEF. Ini adalah ikhtiar sekaligus wajah paling nyata, bahwa di republik ini tidak ada lagi yang bisa diharapkan,” katanya saat ditemui di Bundaran UGM, Jumat (13/2/2026).

“Rasanya pak presiden ini tidak sadar bahwa beliau punya ketidaktahuan terhadap realitas ini. Ketidaktahuan itu kita ambil sebagai diksi stupid. Karena dalam KBBI, bodoh itu artinya tidak tahu. Maka kita ingin supaya ada pihak luar yang didengar oleh Presiden, ketimbang publiknya sendiri,” sambungnya.

Agar dunia menegur Indonesia

Melalui surat itu, ia ingin mengajak dunia untuk ikut menegur pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia salah meletakkan prioritas. Mestinya prioritas pemerintah Indonesia adalah peningkatan pendidikan dan kesehatan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved