Mengintip Cemilan Tradisional Adrem Buatan Mbak Tini di Bantul

Dari tahun ke tahun, warga membuat kuliner adrem, sehingga masuk dalam jajaran warisan budaya takbenda asal Bumi Projotamansari.

Tayang:
Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana
Karyawan Adrem Gula Jawa Mbak Tini sedang menggoreng adrem di rumah produksi Piring II, Kalurahan Murtigading, Kapanewon Sanden, Kabupaten Bantul, belum lama ini. 

"Sebelumnya itu, adrem bukan produk yang saya buat. Dulu saya memiliki catering dan adrem merupakan produk yang dibuat oleh adik saya. Tapi, catering saya terpaksa tutup karena satu dan lain hal, sehingga membuat adrem yang mungkin lebih menjanjikan," urainya.

Berkat ketekunan dan kesabaran, kini adrem buatannya bisa memproduksi 50 kilogram per hari dalam hari biasa.

Namun, saat momen libur panjang seperti akhir tahun ini, Tini bisa memproduksi adrem sekitar 80 kilogram per hari.

Proses produksi dibantu oleh sejumlah ibu-ibu setempat setiap pukul 05.00-16.00-WIB.

"Untuk konsumennya ada di pasar-pasar lokal sini. Di sini ada reseller-reseller. Bahkan, untuk adrem saya ada di Pusat Oleh-oleh Mbok Tumpuk di Bantul. Ada pula, konsumen kami yang datang ke tempat produksi itu, dari Kabupaten Gunungkidul, dan lain sebagainya," papar Tini.

Baca juga: 22 Objek di Bantul Ditetapkan sebagai Cagar Budaya

Lebih lanjut, banyak dari masyarakat luas yang kini memesan camilan adrem di tempatnya dari jauh-jauh hari.

Sebab, jika langsung memesan pada hari itu juga, dikhawatirkan tidak kebagian camilan adrem.

Meski produksi adrem di tempat Tini sudah dimaksimalkan, namun masih sering kekurangan stok.

"Untuk adrem sendiri, harga per mika isi enam Rp7.500. Kalau per biji atau satuan, sekitar Rp1.200. Dan masa kedaluarsanya seminggu di suhu ruangan, tapi bisa lebih tahan lama kalau di suhu panas," urainya.

Siapa sangka, kuliner tersebut ternyata menghasilkan pundi-pundi rupiah yang cukup fantastis. 

Wanita berusia 47 tahun ini turut menyampaikan bahwa dalam sehari, omzet dari produksi adrem bisa mencapai Rp2 juta hingga Rp6 juta.

Kuliner buatan Tini sendiri memiliki rasa original.

Di mana, untuk memproduksinya memerlukan bahan berupa tepung beras, tepung terigu, gula jawa, gula pasir, hingga kelapa yang diuleni secara merata.

"Lalu, adonan itu sempat didiamkan selama semalam sebelum akhirnya digoreng dan dibentuk dengan sumpit di wajan penggoreng," ujar Tini.

Kelompok Paguyuban

Dalam kesempatan itu, Tini juga menyampaikan bahwa di Piring II, Kalurahan Murtigading, terdapat organisasi Paguyuban Mawar Merah sejak tahun 2016.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved