Hasil Riset Ungkap Sampah Barang Elektronik Rumah Tangga di Jogja Simpan Potensi Cuan Rp12 Miliar

​Riset terbaru mengungkap potensi ekonomi dari sampah barang elektronik skala rumah tangga di Kota Yogyakarta mencapai Rp 12,003 miliar.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Yoseph Hary W
Tribunjogja.com/Neti Rukmana
Foto ilustrasi pasar barang bekas. Potret pasar klithikan di Jalan Imogiri-Siluk 

Ringkasan Berita:
  • Tim dari FEB serta PUI-PT Strategic Advancement for Key Digital Transformation Indonesia (SAKTI) Universitas Telkom melakukan riset nilai sampah barang elektronik di Yogyakarta.
  • Riset tersebut mengungkap potensi ekonomi dari sampah elektronik skala rumah tangga di Kota Yogyakarta mencapai angka Rp 12,003 miliar.
  • Barang bekas dengan potensi nilai ekonomi tertinggi meliputi mesin cuci (Rp2,350 miliar), printer (Rp1,436 miliar), dan kulkas besar (Rp1,392 miliar).

 

TRIBUNJOGJA.COM - Siapa sangka, barang-barang elektronik bekas yang menumpuk di gudang atau sudut rumah warga Kota Yogyakarta ternyata menyimpan "harta karun" yang nilainya fantastis.

​Sebuah riset terbaru mengungkap, bahwa potensi ekonomi dari sampah elektronik (e-waste) skala rumah tangga di Kota Yogyakarta mencapai angka Rp 12,003 miliar.

​Angka yang tergolong menggiurkan tersebut tentunya bukan sekadar isapan jempol belaka, melainkan hasil studi mendalam yang dilakukan oleh deretan akademisi.

Khususnya, tim dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) serta Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI-PT) Strategic Advancement for Key Digital Transformation Indonesia (SAKTI) Universitas Telkom.

​Jurry Hatammimi, PhD, Dosen FEB Telkom University, menyebut, angka Rp 12 miliar berasal dari estimasi 1,98 juta unit perangkat elektronik bekas yang tersebar di seluruh wilayah Kota Yogyakarta.

​Ia pun mengungkapkan, jutaan perangkat elektronik tersebut, kondisinya sudah mencapai atau mendekati akhir masa pakai oleh masing-masing pemiliknya.

​"Potensi ekonomi yang sedemikian tinggi ini mengirimkan sinyal, bahwa terdapat peluang yang sangat signifikan bagi Pemerintah Kota Yogyakarta dan seluruh lapisan masyarakat," ujarnya, melalui keterangan tertulis, Rabu (10/12/25).

​Dijelaskan, riset tersebut dilakukan menggunakan teknik stratified random sampling dan turut menggandeng relawan dari Bank Sampah Induk Jogja untuk pendataan di lapangan.

​Ada temuan menarik dalam rangkaian riset yang dimungkinkan dapat mengubah pandangan masyarakat, di mana e-waste seringkali identik dengan ponsel bekas. 

Sampah barang elektronik bernilai tinggi

Namun, ternyata "juara" penyumbang nilai ekonomi terbesar di Kota Yogyakarta bukanlah ponsel, melainkan barang-barang elektronik berukuran besar yang justru memegang peranan kunci.

​Dari 46 jenis barang yang didata, tiga barang dengan potensi nilai ekonomi tertinggi meliputi mesin cuci (Rp2,350 miliar), printer (Rp1,436 miliar), dan kulkas besar (Rp1,392 miliar).

​Sementara jika dilihat dari sisi jumlah unit yang paling banyak menumpuk jadi sampah, urutannya adalah bola lampu/lampu dekoratif (367.083 unit), ponsel (184.267 unit), serta charger (163.954 unit).

​"Volume unit yang tinggi ternyata tidak berkorelasi positif dengan nilai ekonomi yang tinggi. Nilai ekonomi sampah elektronik sebagian besar ditentukan oleh harga beli dari pengumpul barang bekas," jelas Jurry.

​Kabar baiknya, riset menyatakan, warga Kota Yogyakarta dinilai sudah sangat "melek" terhadap isu sampah elektronik ini.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved