Kisah Inspiratif

Kiprah Priyo Dwiarso Maestro Paduan Suara Yogyakarta: Mengabdi Lintas Generasi

Priyo Dwiarso (82), maestro paduan suara Yogyakarta, puluhan tahun mengabdi melatih lintas generasi

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Dok. Istimewa
KONDUKTOR AUBADE: Priyo Dwiarso saat menjadi konduktor pada Aubade Pancasila 5000 peserta di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu (20/05/2015). 

Priyo bercerita, pada Agustus 1965 PS GBP mengisi hiburan menyanyi pada acara peringatan hari kemerdekaan di Gedung Agung Yogyakarta yang dihadiri oleh Soekarno. PS GBP mendapat sambutan dan pujian penuh kekaguman dari para hadirin, termasuk Soekarno.

“Anggota-anggota putri itu terus pada manja ke Bung Karno, ‘Pak, saya kalau pentas belum ada pengiring, mbok saya diparingi (dikasih) piano.’ Bung Karno langsung, ‘oke, nanti ke istana.’ Dua minggu kemudian kita ke sana ketemu Bung Karno, dikasih piano. Jadilah sekarang kita punya piano merek August Forster,” ujar Priyo.

Baca juga: Merawat Warisan Piano Ki Hadjar Dewantara di Yogyakarta

Sekitar satu dekade setelah berdirinya paduan suara khusus pelajar dan mahasiswa, Priyo mendirikan paduan suara khusus anak-anak yang dinamakan Sasana Vokalia.

Berpusat di Senisono, ia berhasil mengumpulkan sekitar tiga ratus murid dan beberapa kali membawa mereka pentas di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

“Nah, di Sasana Vokalia ini saya membuat eksperimen operet. Ternyata setelah jadi, operetnya itu banyak disenangi, terutama oleh Pak Pranadjaja yang juga pelatih vokal di Jakarta. Setiap kami pentas di TIM beliau selalu lihat. Terus Titiek Puspa juga pernah lihat di TIM. Jadi operet-operet kita juga dikagumi oleh musikus-musikus Jakarta,” tutur Priyo.

Priyo Dwiarso berfoto bersama anak-anak didiknya di Sasana Vokalia selepas mementaskan Operet 'Amanat Sang Garuda'. (Istimewa)
Priyo Dwiarso berfoto bersama anak-anak didiknya di Sasana Vokalia selepas mementaskan Operet 'Amanat Sang Garuda'. (Istimewa)

Sepanjang karirnya, Priyo telah menghasilkan total 6 karya operet dan 300 lebih karya aransemen lagu.

Bagi Priyo, paduan suara bukan sekadar urusan vokal dan harmoni musik.

Ia melihatnya sebagai cermin falsafah Pancasila Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu. 

“Suaranya banyak sekali, tapi bisa menjadi satu asal itu serempak dan teratur harmonis,” tukasnya. 

Dalam paduan suara, para anggota tidak hanya belajar nada tetapi juga belajar tenggang rasa, tepo seliro, dan kebersamaan.

Harmoni bukan hanya tercipta dari suara, tetapi dari jiwa yang saling memahami.

Priyo Dwiarso berdiri di depan peserta subade sebagai konduktor pada penyelenggaraan Konser Indonesia Damai 'Pancasila Rumah Kita', Jumat (01/06/2018). (Istimewa)
Priyo Dwiarso sebelum memulai tugasnya sebagai konduktor peserta aubade pada penyelenggaraan Konser Indonesia Damai 'Pancasila Rumah Kita', Jumat (01/06/2018). (Istimewa)

Priyo percaya, nilai persatuan justru lahir dari adanya pertemuan perbedaan.

Di paduan suara, tiap kelompok suara tidak saling menonjolkan ego, melainkan saling menopang satu sama lain.

Dari situlah tumbuh rasa solidaritas, persaudaraan, bahkan kekeluargaan yang kuat. 

“Teman-teman saya paduan suara yang dari tahun 60-an masih seperti saudara sampai hari ini. Kalau ketemu di Jakarta itu mesti saya disuruh mampir atau malah bobok di rumahnya. Kalau tidak mau mereka itu merasa seperti tersinggung,” ujarnya sambil tertawa. 

Bagi Priyo, paduan suara adalah pendidikan hidup yang menjadi tempat mempertemukan suara dan menyatukan hati.

(MG Shafira Puti Krisnintya)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved