Kisah Inspiratif

Kiprah Priyo Dwiarso Maestro Paduan Suara Yogyakarta: Mengabdi Lintas Generasi

Priyo Dwiarso (82), maestro paduan suara Yogyakarta, puluhan tahun mengabdi melatih lintas generasi

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Dok. Istimewa
KONDUKTOR AUBADE: Priyo Dwiarso saat menjadi konduktor pada Aubade Pancasila 5000 peserta di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu (20/05/2015). 

Ia justru selalu menekankan bahwa sejatinya setiap anak memiliki karakter suaranya masing-masing.

Karakter yang khas itulah yang menjadi kekuatan ketika ia kelak menjadi seorang penyanyi.

Priyo Dwiarso dan PS Tri Ubaya Sakti
Priyo Dwiarso tengah memimpin sebagai konduktor Paduan Suara POV Tri Ubaya Sakti pada Konser Emas dan Reuni 50 Tahun Paduan Suara Tri Ubaya Sakti, Selasa (15/09/2015). (Istimewa)

Bekal Semangat Belajar Tinggi

Ketika berbicara tentang awal mula tertarik pada paduan suara, Priyo bercerita bahwa ia tidak sengaja nyemplung karena diajak oleh penyanyi senior Koes Hendratmo yang pada saat itu merupakan kakak kelasnya.

Priyo mengaku awalnya ia lebih aktif berkesenian yang bercorak khas Jawa seperti menembang, menari, dan menabuh gamelan.

Baca juga: Napak Tilas Budaya Jawa di Danunegaran: Ketika Turis Asing Jatuh Cinta pada Batik dan Gamelan ​

Berkat ajakan Koes Hendratmo setelah tidak sengaja mendengarnya bernyanyi, ia mulai mempelajari musik modern dan mengikuti beberapa kontes menyanyi yang berhasil memberinya banyak prestasi.

Prestasi itulah yang kemudian membakar semangat Priyo untuk terus mengasah bakat menyanyinya.

Pada tahun 1963, ia lolos seleksi anggota PS Pusat Olah Vokal (POV) Tri Ubaya Sakti.

Di sana, ia terus dilatih vokalnya oleh komponis Nortier Simanungkalit yang juga merupakan pendiri POV.

Belum merasa cukup, Priyo juga berguru pada komponis Kusbini dan beberapa guru musik lainnya untuk memperkaya ilmunya.

“Saya jadi belajar musik itu tidak hanya praktek saja. Tapi teori-teorinya, baik itu teori vokal ataupun teori musik pada umumnya. Saya jadi banyak mengetahui mengenai teori-teori dasar pengetahuan musik, termasuk belajar main instrumen piano,” tutur Priyo.

Priyo Dwiarso bersama N. Simanungkalit
Dari kiri, Nortier Simanungkalit bersama Tyasno Sudarto, Pembina PS Gelora Bahana Patria, dan Priyo Dwiarso di tengah latihan Paduan Suara Gelora Bahana Patria. (Istimewa)

Berangkat dari pengetahuan musiknya yang kaya itulah Priyo dipercaya banyak pihak untuk membentuk dan melatih kelompok paduan suara di Yogyakarta.

Salah satu pencapaian terbesar yang ia banggakan adalah ketika dipercaya oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memimpin penyelenggaraan Aubade Pancasila yang melibatkan ribuan peserta. 

Selama beberapa tahun sekali, Priyo dipercaya untuk terlibat dan menjadi konduktor dalam penyelenggaraan Aubade Pancasila.

Biasanya, aubade melibatkan sekitar lima ratus hingga dua ribu peserta. 

Pada satu waktu, Aubade Pancasila pernah memperoleh pencapaian tertinggi dan melibatkan hingga total 5000 peserta pada tahun 2015.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved