Kisah Inspiratif

Kiprah Priyo Dwiarso Maestro Paduan Suara Yogyakarta: Mengabdi Lintas Generasi

Priyo Dwiarso (82), maestro paduan suara Yogyakarta, puluhan tahun mengabdi melatih lintas generasi

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Dok. Istimewa
KONDUKTOR AUBADE: Priyo Dwiarso saat menjadi konduktor pada Aubade Pancasila 5000 peserta di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu (20/05/2015). 

“Aubade itu nyanyian sore, artinya nyanyian sore untuk pemujaan. Pemujaan kepada raja, pemujaan kepada negara, pemujaan kepada bangsa. Dalam hal ini saya arahkan, kita khususkan pada lagu-lagu cinta tanah air dan lagu-lagu perjuangan,” ungkap Priyo.

Dengan penuh semangat, Priyo menceritakan bagaimana ia mencoba bereksperimen menciptakan metode baru untuk menggabungkan sekian suara dari berbagai kelompok paduan suara yang sangat beragam.

Mulai dari paduan suara anak-anak sekolah, paduan suara mahasiswa, paduan suara ibu-ibu PKK, hingga kelompok paduan suara para pensiunan yang masih semangat ikut bernyanyi bersama.

Priyo Sebagai Konduktor Aubade 5000 UGM
Priyo Dwiarso saat tengah memimpin sebagai konduktor Aubade Pancasila yang dihadiri 5000 peserta di Grha Sabha Pramana UGM, Rabu (20/05/2015). (Istimewa)

“Jadi setiap aubade saya mesti membuat tiga aransemen untuk tiap lagu. Untuk empat suara lengkap SATB ya, sopran, alto, tenor, bass. Lalu tiga suara itu untuk paduan suara sejenis, kalau paduan suara putri ya sopran, mezzo-sopran, alto. Kalau yang putra itu tenor, bariton, bass. Sama dua suara itu untuk anak SD, jadi hanya suara tinggi sama suara rendah,” jelas Priyo.

Ia mengatakan, aubade menjadi sarana efektif untuk menanamkan rasa cinta tanah air.

Tidak sedikit peserta yang menyampaikan rasa haru padanya, beberapa langsung menangis dan saling merangkul selepas selesai bernyanyi.

Mencipta Harmoni Lintas Generasi

Keaktifan Priyo di bidang paduan suara mengantarkannya memperoleh berbagai penghargaan dari Pemerintah Kota Yogyakarta dan Provinsi DIY.

Ia pernah mendapatkan Penghargaan Seni Kategori Paduan Suara dari Gubernur dan Penghargaan Seni dari Walikota Yogyakarta.

Sejak 2021, Priyo diamanahi oleh Wali Kota Yogyakarta untuk menjadi Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta yang berfungsi untuk mendukung pelestarian dan pengembangan budaya khas di Yogyakarta.

Priyo Dwiarso dan Langen Gita Tamansiswa
Pementasan Langen Gita Tamansiswa Lila Wistara yang diiringi oleh Paduan Suara Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) yang dilatih Priyo Dwiarso pada Penutupan Konggres Tamansiswa tahun 1984. (Istimewa)

Pengalaman Priyo tidak lepas dari peran sertanya mendirikan sekaligus melatih beberapa kelompok paduan suara di Yogyakarta.

Beberapa paduan suara mahasiswa yang didirikan oleh Priyo meliputi paduan suara UST, UII, UAD, dan UMY.

Bersama Nortier Simanungkalit, ia juga turut mendirikan PS Bahana Patria khusus mahasiswa dan PS Gelora Patria khusus pelajar pada tahun 1964.

Kedua kelompok paduan suara itu kemudian memutuskan untuk melebur jadi satu saat mereka bertemu dalam reuni pada tahun 1990.

Kelompok paduan suara itu masih aktif hingga sekarang dengan nama PS Gelora Bahana Patria (GBP).

Selama aktif mengisi acara bersama PS GBP, satu momen yang cukup membekas di hati Priyo adalah ketika mereka mendapat piano dari Soekarno.

Piano Bung Karno PS GBP
Pianis PS GBP, Hapsari tengah memainkan piano pemberian Bung Karno pada Aubade Pancasila yang dilaksanakan di UGM, Sabtu (22/07/2017). (Istimewa)
Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved