Kisah Inspiratif
Kiprah Priyo Dwiarso Maestro Paduan Suara Yogyakarta: Mengabdi Lintas Generasi
Priyo Dwiarso (82), maestro paduan suara Yogyakarta, puluhan tahun mengabdi melatih lintas generasi
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
“Aubade itu nyanyian sore, artinya nyanyian sore untuk pemujaan. Pemujaan kepada raja, pemujaan kepada negara, pemujaan kepada bangsa. Dalam hal ini saya arahkan, kita khususkan pada lagu-lagu cinta tanah air dan lagu-lagu perjuangan,” ungkap Priyo.
Dengan penuh semangat, Priyo menceritakan bagaimana ia mencoba bereksperimen menciptakan metode baru untuk menggabungkan sekian suara dari berbagai kelompok paduan suara yang sangat beragam.
Mulai dari paduan suara anak-anak sekolah, paduan suara mahasiswa, paduan suara ibu-ibu PKK, hingga kelompok paduan suara para pensiunan yang masih semangat ikut bernyanyi bersama.
“Jadi setiap aubade saya mesti membuat tiga aransemen untuk tiap lagu. Untuk empat suara lengkap SATB ya, sopran, alto, tenor, bass. Lalu tiga suara itu untuk paduan suara sejenis, kalau paduan suara putri ya sopran, mezzo-sopran, alto. Kalau yang putra itu tenor, bariton, bass. Sama dua suara itu untuk anak SD, jadi hanya suara tinggi sama suara rendah,” jelas Priyo.
Ia mengatakan, aubade menjadi sarana efektif untuk menanamkan rasa cinta tanah air.
Tidak sedikit peserta yang menyampaikan rasa haru padanya, beberapa langsung menangis dan saling merangkul selepas selesai bernyanyi.
Mencipta Harmoni Lintas Generasi
Keaktifan Priyo di bidang paduan suara mengantarkannya memperoleh berbagai penghargaan dari Pemerintah Kota Yogyakarta dan Provinsi DIY.
Ia pernah mendapatkan Penghargaan Seni Kategori Paduan Suara dari Gubernur dan Penghargaan Seni dari Walikota Yogyakarta.
Sejak 2021, Priyo diamanahi oleh Wali Kota Yogyakarta untuk menjadi Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta yang berfungsi untuk mendukung pelestarian dan pengembangan budaya khas di Yogyakarta.
Pengalaman Priyo tidak lepas dari peran sertanya mendirikan sekaligus melatih beberapa kelompok paduan suara di Yogyakarta.
Beberapa paduan suara mahasiswa yang didirikan oleh Priyo meliputi paduan suara UST, UII, UAD, dan UMY.
Bersama Nortier Simanungkalit, ia juga turut mendirikan PS Bahana Patria khusus mahasiswa dan PS Gelora Patria khusus pelajar pada tahun 1964.
Kedua kelompok paduan suara itu kemudian memutuskan untuk melebur jadi satu saat mereka bertemu dalam reuni pada tahun 1990.
Kelompok paduan suara itu masih aktif hingga sekarang dengan nama PS Gelora Bahana Patria (GBP).
Selama aktif mengisi acara bersama PS GBP, satu momen yang cukup membekas di hati Priyo adalah ketika mereka mendapat piano dari Soekarno.
| Menjaga Marwah Sepeda Federal: Memori Kejayaan Global di Tirtoadi Mlati Sleman |
|
|---|
| Kabar Lea Bocah SD di Kulon Progo Asuh Adik Saat Ibu Jalani Kemoterapi |
|
|---|
| Kisah Bripda Khoirudin Mustakim Harumkan Nama Klaten di SEA Games 2025 |
|
|---|
| Dias Rizki Anak Penjual Sate Asal Cilacap Jadi Wisudawan Terbaik Untidar Magelang |
|
|---|
| Kisah Muhammad Suryo Alumni UPN Yogyakarta Jadi Bos Rokok HS hingga Tambang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Priyo-Dwiarso.jpg)